Satu Abad Jam Gadang

Satu Abad Jam Gadang
by Bumiara

Satu abad kau berdiri,
Jam Gadang.
Tetap tegak
di tengah negeri
yang makin ramai
oleh manusia tanpa tulang belakang.

Marapi dan Singgalang
menjadi saksi,
bagaimana tanah ini perlahan
bukan lagi dipimpin akal,
melainkan dipelihara
oleh nafsu yang pandai pidato.

Dulu, dari rahimmu lahir
orang-orang besar:
pemikir yang tak bisa dibeli,
pejuang yang tak pandai menjilat,
dan diplomat
yang membawa martabat bangsa
bukan proposal kepentingan.

Mereka berbeda pendapat,
tapi tak menjual kehormatan.

Kini
Yang tumbuh justru
manusia-manusia lentur,
yang pinggangnya lebih mudah membungkuk
daripada mulutnya berkata benar.

Mereka bersorak tentang adat,
namun menjadikan marwah
sebagai barang lelang.

Berbicara tentang rakyat
sambil sibuk mengukur kursi.
Berbicara tentang perjuangan
padahal hidupnya habis
berpindah dari satu telapak tangan
ke telapak tangan kekuasaan lain.

Yang lucu,
mereka paling gemar
mengutip nama leluhur.
Padahal andai leluhur bangkit,
mungkin yang pertama ditampar
adalah barisan cucu
yang menjual harga diri
demi undangan makan malam
dan selembar jabatan.

Kini negeri kecil di kakimu
dipenuhi aktor-aktor murahan:
munafik yang fasih bersumpah,
penjilat yang mengaku pejuang,
serta pengecut
yang ramai bicara moral
namun diam saat kebenaran diperkosa kuasa.

Mereka menyebut dirinya pemimpin,
padahal hanya calo kepentingan
berbaju kehormatan.

Dan rakyat dipaksa tepuk tangan
setiap kebohongan diumumkan
dengan pengeras suara.

Tapi kami tahu,
rahimmu tak pernah melahirkan
anak-anak serendah itu.

Sebab pengkhianat sejarah
biasanya bukan lahir
dari rakyat biasa,
melainkan dari mereka
yang terlalu lama duduk nyaman
hingga lupa
bahwa kursi juga bisa patah.

Maka berdirilah terus,
wahai Jam Gadang.
Biar jarummu terus bergerak
menghitung usia
para badut kekuasaan
yang mengira sejarah
bisa dibeli
dengan pencitraan dan baliho.