Fiksi, Ramalan, atau Realitas yang Menanti?
Buku Ghost Fleet karya P.W. Singer dan August Cole bukan sekadar novel militer futuristik. Ia adalah cermin buram yang memantulkan kemungkinan masa depan, dengan landasan teknologi nyata dan dinamika geopolitik yang sedang berlangsung. Dalam novel ini, digambarkan konflik berskala global antara Amerika Serikat dan koalisi Cina-Rusia yang menghancurkan dominasi Amerika di abad 21, bukan dengan senjata konvensional semata, tetapi melalui perang siber, teknologi canggih, dan propaganda informasi.
Pertanyaannya adalah apakah skenario ini fiksi semata atau ramalan yang bisa menjadi kenyataan? Dan jika perang masa depan akan lebih ditentukan oleh algoritma, AI, dan dominasi teknologi, masih adakah ruang bagi ideologi dalam medan pertarungan global?
Membaca Ghost Fleet, Antara Imajinasi dan Strategi Nyata
Ghost Fleet tidak sekadar mengisahkan pertempuran militer; ia membangun narasi yang berdasarkan riset mendalam tentang kekuatan teknologi militer, ekonomi global, dan kerentanan sistem digital Amerika. Dalam novel itu:
1. Cina dan Rusia membentuk aliansi strategis, menggunakan teknologi reverse-engineering, cyber attack, dan infiltrasi sistem industri AS untuk melumpuhkan kekuatan Barat tanpa perang terbuka di awal.
2. Amerika Serikat mengalami kekalahan awal, karena ketergantungan pada teknologi produksi asing (khususnya dari Cina) yang ternyata telah disusupi.
3. Perang berlangsung di semua lini: darat, laut, udara, siber, dan ruang angkasa. Namun yang utama adalah dominasi informasi dan kontrol infrastruktur digital.
4. ‘Armada Hantu’ (Ghost Fleet), kapal-kapal perang tua dari era Perang Dingin yang dihidupkan kembali, menjadi simbol bahwa kekuatan militer konvensional yang tidak tergantung pada teknologi canggih tetap relevan di tengah perang digital.
Dalam realitas hari ini, kita telah melihat elemen-elemen ini:
1. Kebangkitan Cina dalam industri militer dan teknologi AI.
2. Perang Rusia-Ukraina yang mengintegrasikan propaganda informasi, perang siber, dan penggunaan drone secara masif.
3. Ketegangan di Laut Cina Selatan dan Taiwan yang semakin memanas.
4. Ketergantungan negara-negara Barat pada rantai pasok Cina dalam bidang semikonduktor, logistik, hingga baterai lithium.
Ghost Fleet mungkin fiksi, tapi fondasi naratifnya adalah realitas kontemporer. Oleh sebab itu, ia lebih merupakan skenario kemungkinan daripada sekadar hiburan futuristik.
Dunia Pasca-Ideologi? Narasi Palsu dari Kapitalisme Global
Banyak yang mengklaim bahwa kita telah hidup dalam dunia “pasca-ideologi”. Runtuhnya Uni Soviet, globalisasi ekonomi, dominasi korporasi multinasional, dan meluasnya teknologi digital dianggap menandai matinya ideologi besar. Namun kenyataannya, ideologi tidak pernah mati, hanya berubah bentuk dan medan.
Kapitalisme global adalah ideologi itu sendiri. Ia membentuk persepsi, budaya, orientasi hidup, bahkan menyusup ke dalam sistem pendidikan, media sosial, dan perangkat teknologi. Dalam narasi pasca-ideologi, dominasi ekonomi menjadi norma. Inilah yang diabaikan banyak analis mainstream, bahwa teknologi bukan netral, ia dibentuk oleh ideologi pembuatnya.
Dalam konteks Ghost Fleet, penguasaan teknologi oleh Cina bukan sekadar dominasi industri, ia adalah manifestasi dari visi dunia alternatif dimana model otoriter yang berbasis efisiensi, kontrol, dan supremasi nasionalisme ekonomi. Sebaliknya, Amerika digambarkan kehilangan kompas ideologisnya karena terlalu mempercayakan keamanan dan ekonominya pada tangan pasar bebas dan outsourcing.
Ideologi Sebagai Navigasi dalam Perang Global yang Tak Terlihat
Salah satu pelajaran paling mendalam dari Ghost Fleet adalah bahwa perang masa depan tidak akan diawali oleh deklarasi resmi, tetapi oleh hancurnya infrastruktur digital, runtuhnya kepercayaan publik, dan krisis epistemik yang menjalar melalui disinformasi. Dalam kondisi seperti itu, ideologi menjadi jangkar terakhir yang memberi arah.
Mengapa ideologi tetap penting?
1. Ideologi memberi kerangka berpikir dan nilai dalam chaos informasi. Tanpa ideologi, rakyat mudah diprovokasi oleh hoaks, propaganda, dan perang persepsi.
2. Ideologi membentuk daya tahan moral dan kolektif. Negara-negara yang memiliki semangat kebangsaan dan arah ideologis yang kuat lebih tangguh menghadapi tekanan global.
3. Ideologi menumbuhkan solidaritas. Dalam dunia yang serba individualistik dan konsumtif, solidaritas ideologis menjadi energi kolektif untuk bertahan dan melawan.
Cina tidak bisa dipahami hanya dari aspek ekonominya. Ia dibentuk oleh ideologi panjang. Konfusianisme, komunisme ala Mao, hingga kapitalisme negara (state capitalism) saat ini. AS, pada masa jayanya, dibangun oleh ideologi liberalisme, individualisme, dan kepercayaan terhadap “Manifest Destiny”. Bahkan kelompok Islam radikal pun bertahan karena kekuatan ideologis, bukan sekadar militer.
Ketika Teknologi Tidak Lagi Netral, Perang Algoritma dan Ideologi Tersembunyi
Ghost Fleet memberi pelajaran penting bahwa teknologi bukan alat netral. Ia adalah senjata ideologis dalam bentuk algoritma, big data, AI, dan infrastruktur digital yang dikendalikan oleh nilai-nilai tertentu.
Contoh aktual:
1.Algoritma media sosial didesain untuk menciptakan echo chamber, memicu polarisasi, dan membentuk opini publik.
2.Aplikasi pengawasan (seperti yang digunakan di Xinjiang) dibungkus sebagai alat keamanan, padahal mengontrol populasi berbasis ideologi tertentu.
3.Teknologi drone, satelit, dan sensor AI bukan hanya alat militer, tetapi kontrol spasial terhadap wilayah.
Oleh karena itu, pertempuran ideologi tidak lagi terjadi di kampus atau buku filsafat, tetapi di balik layar digital, pusat data, dan kontrol jaringan komunikasi. Ideologi digital Cina misalnya, menanamkan gagasan kedaulatan digital nasional dan supremasi negara atas informasi. Sedangkan ideologi Barat menekankan pada keterbukaan dan kebebasan individu, namun seringkali dikendalikan oleh oligarki korporat seperti Google, Amazon, dan Meta.
Ramalan Ghost Fleet dalam Konteks Indonesia: Siapkah Kita?
Indonesia sebagai negara besar dengan posisi geopolitik strategis tidak bisa hanya menjadi penonton. Jika skenario Ghost Fleet terjadi, Indonesia akan menjadi ajang tarik-menarik antara kekuatan besar. Pertanyaannya adalah apa posisi ideologi bangsa dalam menghadapi kemungkinan konflik global digital ini?
Indonesia hari ini menghadapi berbagai tantangan:
1. Ketergantungan pada teknologi asing (khususnya Tiongkok dan AS).
2. Lemahnya kedaulatan data dan sistem pertahanan siber.
3. Fragmentasi ideologi bangsa di tengah polarisasi politik yang dangkal.
4. Generasi muda yang lebih akrab dengan TikTok ketimbang sejarah perjuangan.
Dalam situasi ini, penting untuk menegaskan kembali Pancasila sebagai ideologi nasional, bukan sekadar simbol administratif. Tapi lebih dari itu, umat Islam dan kelompok ideologis seperti Syarikat Islam (PSII) harus kembali merumuskan peranannya dalam menghidupkan ideologi yang menyatukan nilai spiritualitas, keadilan sosial, dan kedaulatan nasional.
Kembali ke Pertarungan Ideologi Global
Ghost Fleet bukan hanya cerita perang kapal dan teknologi canggih. Ia adalah metafora dari perang nilai, perang identitas, dan perang pengaruh. Ia memperlihatkan bahwa negara yang mengabaikan ideologi, kehilangan arah moral, dan bergantung sepenuhnya pada kekuatan ekonomi, akan menjadi korban dari kekuatan lain yang lebih siap secara strategis dan ideologis.
Maka pertanyaannya bukan “apakah ideologi masih penting?”, tetapi “apa ideologi yang harus kita bangun untuk bertahan dalam dunia yang dikendalikan oleh Ghost Fleet?”
Kita butuh ideologi yang:
1. Berakar pada nilai spiritual dan kultural bangsa, bukan produk copy-paste dari kapitalisme atau komunisme global.
2. Mendorong kemandirian teknologi dan ekonomi, bukan sekadar konsumsi dan ketergantungan.
3. Membangun kesadaran kritis generasi muda agar tidak hanyut dalam dunia virtual yang kosong nilai.
4. Menjawab tantangan geopolitik secara aktif dan sadar, bukan netral pasif atau menjadi satelit kekuatan besar.
Jika kita tidak menegaskan ideologi kita sekarang, bukan tidak mungkin Indonesia hanya akan menjadi kapal tua yang tenggelam dalam pertempuran besar kekuatan global. Dalam bayang-bayang Ghost Fleet, yang akan bertahan bukan yang paling kaya atau paling canggih teknologinya, tapi yang paling kuat daya juang ideologisnya.
Wallahu’alam
Pondok Syarikat, 15 Juli 2025