Tiada lagi kuhitung hari, karena ia telah menjadi debu yang singgah di sajadah sepi
Kini yang kuhitung hanyalah namamu yang tumbuh di antara getar yang berpura-pura tegar
Langit pernah berkalam,
“Setiap rindu adalah burung yang terbang mencari pohon yang masih sanggup berdiri.”
Lalu kulepas burung-burung itu
Ada yang pulang membawa tetesan hujan
Ada yang hilang di jingga cakrawala
Namun ada pula yang memilih tinggal di dalam dada, menjadi kidung yang tak pernah selesai, menunggumu kembali
Jangan bertanya mengapa pintu ini masih terbuka
Karena rumah yang dibangun dari sejati cinta tak pernah mengenal kata terlambat
Yang kutahu, setiap yang pulang adalah mereka yang telah selesai berperang melawan dirinya sendiri
Namun, jika yang pulang bukanlah engkau,
aku tak akan menyalahkan takdir
Sebab cinta bukanlah tentang memiliki
Kadang ia hanya datang untuk mengajarkan bagaimana menjadi taman,
meski tahu tak akan pernah disambangi musim bunga
— Bumiara





