Rumah Menyimpan Abu
by Bumiara
Dulu,
di sebuah bukit
yang berterik mentari,
berdiri sebuah rumah
bertiang pidato,
beratap slogan,
dan berdinding
foto-foto leluhur.
Setiap pagi
penghuninya
menyapu lantai sejarah,
namun lupa
menyalakan tungku
yang dahulu
menghangatkan rumah.
Mereka sibuk
mengelap bingkai,
sementara cermin
tak lagi berani
memantulkan wajah.
Di ruang tengah,
jam tua
masih berdetak,
namun waktu
telah melupakan
alamatnya sendiri.
Perpustakaan
dipenuhi kitab,
tetapi rayap
lebih tekun membaca
daripada para pewarisnya.
Benih-benih
dibungkus rapat
di dalam peti besi,
tak pernah
dipertemukan
dengan tanah.
Lalu mereka heran,
mengapa musim
tak lagi
melahirkan hutan.
Burung-burung
datang
membawa kabar langit
di ujung sayap,
namun dipaksa
menghafal
cara terbang
burung-burung
yang telah
menjadi fosil.
Maka,
satu demi satu
mereka memilih
angin lain.
Yang tertinggal
hanyalah sarang:
lengkap,
rapi,
dan kosong.
Sesekali
seorang tua
berdiri di beranda,
menunjuk gunung
yang pernah
ditaklukkannya.
Sementara
di belakang rumah,
masa depan
telah berubah
menjadi kuburan
yang sunyi,
tanpa pernah
meminta izin
kepada sejarah.
Rumah itu
belum runtuh.
Ia hanya
terlalu lama
memeluk abu,
hingga lupa
bahwa api
tak pernah lahir
dari kenangan,
melainkan
dari kayu
yang berani
terbakar.






