Pena yang Dipatahkan Negeri by Bumiara

Puisi dan Sastra118 Dilihat

Pena yang Dipatahkan Negeri
by Bumiara

Pena ku telah patah, kawan.

Ia patah
bukan oleh usia,
melainkan oleh antrean panjang
di depan pompa bensin
yang lebih sabar
daripada negara
mendengar ratap
rumah-rumah
yang ditimbun lumpur.

Tinta ku telah tandus, sobat.

Ia habis
mengeja kursi-kursi paripurna
yang pandai menghadiri
daftar gaji,
namun alpa
menghadiri nurani.

Mereka menyebut dirinya
wakil rakyat,
sementara rakyat
hanya menjadi angka
di halaman pidato.

Kertas ku telah buram, saudara.

Setiap bait
kucuci dengan air mata,
sebab penghapus
di negeri ini
lebih sering menghapus
kenyataan
daripada kesalahan.

Katanya negeri ini makmur.

Namun perut-perut
tetap berziarah
ke tong sampah,
sedang janji-janji
berkembang biak
di musim pemilu.

Maka jangan tanya
mengapa pena ku patah.

Sebab di negeri
yang sibuk memoles wajah,
kejujuran
selalu lebih dulu
dikafani.