KHUTBAH PARA PENJILAT
by Bumiara
Tatkala tempat suci
dipakai panggung politik praktis,
ayat dipotong seperlunya,
tafsir menyesuaikan sponsor.
Lidah wangi dalil
dompet lebih dulu aman.
Katanya kritik itu bangkai
Suara rakyat itu dosa
Jika sebut busuk istana
Bila membuka borok penguasa.
Apa mereka kira malaikat tak mencatat
bau niat di balik khutbah?
Nurani bertanya:
sejak kapan kebenaran harus berbisik
demi menjaga kursi tetap tegak?
Pertanyaan dilarang—
bisa merusak skenario.
Keraguan diharamkan—
bisa menggoyang protokol.
Jika menegur zalim disebut gunjing,
maka nabi-nabi terdahulu
akan dituduh humas fitnah kerajaan.
Sejarah justru bersaksi:
yang pertama berdiri melawan tirani
bukan perusuh—
tapi nabi.
Di zaman ini,
kebenaran harus direvisi,
keadilan perlu akses khusus,
takwa wajib lolos sensor.
Raja lalim dipoles khutbah,
rakyat lapar disuruh sabar.
Takut bukan nama lain dari takwa.
Diam yang dibayar nyaman
lebih busuk dari kejujuran pahit.
Negeri disebut aman—
selama suara dikunci rapi.





