KHUTBAH PARA PENJILAT

Puisi dan Sastra103 Dilihat

KHUTBAH PARA PENJILAT

by Bumiara 

Tatkala tempat suci

dipakai panggung politik praktis,

ayat dipotong seperlunya,

tafsir menyesuaikan sponsor.

 

Lidah wangi dalil

dompet lebih dulu aman.

 

Katanya kritik itu bangkai

Suara rakyat itu dosa

Jika sebut busuk istana

Bila membuka borok penguasa.

 

Apa mereka kira malaikat tak mencatat

bau niat di balik khutbah?

 

Nurani bertanya:

sejak kapan kebenaran harus berbisik

demi menjaga kursi tetap tegak?

 

Pertanyaan dilarang—

bisa merusak skenario.

Keraguan diharamkan—

bisa menggoyang protokol.

 

Jika menegur zalim disebut gunjing,

maka nabi-nabi terdahulu

akan dituduh humas fitnah kerajaan.

 

Sejarah justru bersaksi:

yang pertama berdiri melawan tirani

bukan perusuh—

tapi nabi.

 

Di zaman ini,

kebenaran harus direvisi,

keadilan perlu akses khusus,

takwa wajib lolos sensor.

 

Raja lalim dipoles khutbah,

rakyat lapar disuruh sabar.

 

Takut bukan nama lain dari takwa.

Diam yang dibayar nyaman

lebih busuk dari kejujuran pahit.

 

Negeri disebut aman—

selama suara dikunci rapi.