Oleh: Ardinal Bandaro Putiah
Banuaminang.co.id–Ada organisasi yang bertahan karena struktur, nama, atau sejarah. Tetapi ada organisasi yang seharusnya bertahan karena gagasan dan perjuangan.

Syarikat Islam berada dalam kategori terakhir.
Pada tahun 2026, tonggak sejarah Syarikat Islam Indonesia mencapai 121 tahun tepatnya tanggal 16 Oktober sejak lahirnya Syarikat Dagang Islam di Surakarta pada 1905. Dari lingkungan saudagar Muslim, gerakan ini berkembang menjadi kekuatan sosial-politik yang berpengaruh dalam kebangkitan nasional Indonesia. Syarikat Islam Indonesia bukan sekadar organisasi yang pernah ada. Ia pernah menjadi ruang tempat umat belajar berhimpun, berdagang, berpikir, berpolitik, melawan ketidakadilan, dan membangun kesadaran kebangsaan.
Namun justru karena sejarahnya besar, pertanyaan terhadapnya hari ini juga harus besar:
Apakah kebesaran sejarah itu masih menjadi kekuatan hidup, atau perlahan berubah menjadi sekadar kenangan?
Pertanyaan ini bukan penghinaan, melainkan bentuk kecintaan. Organisasi yang mencintai sejarahnya tidak akan puas hanya menceritakan masa lalu. Ia akan bertanya apakah nilai-nilai yang melahirkan kebesaran itu masih bekerja hari ini.
Milad ke-121 semestinya menjadi momentum muhasabah gerakan, bukan sekadar menghitung usia, tetapi mengukur kontribusi terhadap rakyat; bukan hanya mengenang H.O.S. Tjokroaminoto, tetapi menilai apakah keberanian intelektual, politik, dan moral masih hidup dalam perilaku organisasi.
Sejarah yang Terlalu Sering Dirayakan
Semakin besar sejarah sebuah organisasi, semakin mudah ia terjebak dalam nostalgia. Nama besar menjadi kebanggaan, foto tokoh menjadi ornamen, tanggal kelahiran menjadi agenda tahunan, sementara pertanyaan tentang masa depan jarang dibicarakan.
Padahal sejarah tidak meminta untuk disembah, melainkan dipahami.
Jika Syarikat Islam Indonesia (baca : Sarekat Islam) dahulu mampu berkembang dari organisasi perdagangan menjadi gerakan sosial dan politik, yang harus dipelajari bukan hanya kronologinya, tetapi kemampuan transformasinya. Sarekat Islam memahami bahwa persoalan ekonomi berkaitan dengan kesadaran sosial, politik, dan kebangsaan. Ia tidak berhenti pada urusan internal, tetapi masuk ke persoalan zamannya.
Pertanyaan hari ini adalah persoalan zaman apa yang sedang dimasuki Syarikat Islam Indonesia?
Kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pengangguran anak muda, dominasi modal, krisis petani, pendidikan, moral, kepemimpinan, demokrasi, dan transformasi digital menuntut posisi yang jelas. Di mana Syarikat Islam Indonesia di tengah semua persoalan itu?
Organisasi perjuangan memiliki daya gugat, mampu mempertanyakan keadaan, menolak ketidakadilan, menawarkan alternatif, mengorganisasi masyarakat, dan melahirkan kader yang bergerak.
Namun ketika terlalu lama sibuk mengurus diri sendiri, daya gugat itu menghilang. Organisasi lebih sibuk dengan jabatan daripada gagasan, struktur daripada kader, rapat daripada program, dan seremoni daripada perubahan. Kalender kegiatan mungkin penuh, tetapi daya geraknya melemah.
Gerakan bisa mati sebelum organisasinya bubar.
Pengurus, kantor, undangan, dan milad masih ada, tetapi ruh perjuangan dapat melemah ketika keberanian untuk bermimpi hilang. Karena itu, kritik internal harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan ancaman. Organisasi tanpa kritik akan menjadi organisasi tanpa cermin. Kritik yang sehat bukan fitnah atau serangan pribadi, melainkan koreksi terhadap gagasan, kebijakan, struktur, dan orientasi gerakan.
Kita membutuhkan organisasi yang cukup dewasa untuk mengoreksi dirinya sendiri.
Dari Tjokroaminoto ke Kaderisasi
Membicarakan Tjokroaminoto berarti membicarakan manusia yang melihat organisasi sebagai alat perjuangan. Ia bukan sekadar ketua, melainkan pendidik politik, penggerak, dan pemikir. Ia memahami bahwa bangsa tertindas tidak cukup diberi pidato, mereka harus dididik agar memahami dirinya sendiri.
Karena itu, kaderisasi bukan sekadar merekrut anggota. Kader adalah manusia yang memiliki kesadaran, memahami perjuangan, berdisiplin, mampu berpikir, memimpin, berdiri sendiri, dan berbeda pendapat tanpa kehilangan persaudaraan.
Jika kader hanya dibutuhkan ketika ada kegiatan, yang dibangun bukan kaderisasi, melainkan kepanitiaan.
Apakah kita sedang mencetak kader, atau hanya mencetak panitia?
Anak muda harus dipersiapkan menjadi pemimpin, bukan sekadar tenaga kegiatan, diajarkan sejarah dan ideologi, bukan hanya tugas administratif, serta diberi ruang berpikir kritis, bukan dicurigai ketika bertanya tajam.
Tidak ada organisasi yang dapat hidup selamanya dengan mengandalkan generasi pendiri. Regenerasi adalah syarat keberlangsungan organisasi. Masalahnya mungkin bukan ketiadaan generasi muda, melainkan kegagalan organisasi menemukan bahasa untuk berbicara kepada mereka.
Anak muda hidup dengan internet, ekonomi digital, media sosial, dan ketidakpastian pekerjaan. Mereka mempertanyakan otoritas dan membutuhkan ruang aktualisasi. Mereka tidak cukup diberi slogan, tetapi membutuhkan gagasan yang masuk akal dan kerja yang hasilnya dapat dilihat.
Jika Syarikat Islam ingin mendapatkan kembali energi mudanya, ia harus datang bukan dengan nostalgia, melainkan dengan tawaran masa depan.
Ideologi yang Tidak Boleh Menjadi Hiasan
Persoalan serius organisasi ideologis muncul ketika ideologi berhenti menjadi panduan tindakan. Ia menjadi teks yang dibaca saat pelatihan, disebut dalam pidato, dan ditulis dalam dokumen, tetapi tidak menentukan keputusan.
Jika Syarikat Islam berbicara tentang Islam, keadilan, kemerdekaan, persatuan, kesejahteraan, dan martabat manusia, semua itu harus memiliki konsekuensi praktis.
Dalam bidang ekonomi, misalnya, organisasi perlu membangun koperasi, usaha produktif, pendidikan kewirausahaan, jaringan perdagangan, pendampingan UMKM, pertanian, dan peternakan. Umat tidak cukup dinasihati agar rajin bekerja; mereka membutuhkan ekosistem agar kerja menghasilkan kehidupan yang layak.
Ideologi yang tidak diterjemahkan menjadi program pada akhirnya hanya menjadi hafalan.
Ironis jika organisasi yang sejarah awalnya dekat dengan perdagangan kemudian tidak memiliki agenda ekonomi yang kuat. Hari ini petani membutuhkan pasar, nelayan perlindungan, pedagang kecil modal, anak muda pekerjaan, UMKM teknologi, dan masyarakat pendidikan finansial.
Jika Syarikat Islam ingin menghidupkan kembali semangat Samanhudi, gerakan ekonomi harus menjadi gerakan yang terorganisasi, bukan proyek sesaat atau seminar yang selesai ketika mikrofon dimatikan. Setiap cabang dapat mengembangkan usaha produktif, melatih kader membangun bisnis, menjadikan jaringan anggota sebagai pasar, menghidupkan koperasi, dan membangun pendidikan ekonomi yang serius.
Politik pun harus kembali menjadi jalan pengabdian. Syarikat Islam memiliki sejarah politik, tetapi politik mudah membelokkan orientasi organisasi menjadi perebutan posisi.
Kekuasaan boleh didekati, tetapi organisasi tidak boleh kehilangan daya kritis. Organisasi boleh berkomunikasi dengan pemerintah, tetapi harus tetap berani menyampaikan kritik. Kader di ruang kekuasaan harus memiliki tanggung jawab moral kepada rakyat.
Ukuran politik bukan seberapa dekat seseorang dengan kekuasaan, melainkan apa yang dilakukan kekuasaan untuk manusia.
Agenda Pembaruan, Dari Seremoni ke Kerja Nyata
Milad ke-121 harus menjadi titik awal agenda pembaruan yang terukur. Organisasi perlu menjawab beberapa kebutuhan mendasar.
Pertama, membangun kaderisasi berjenjang yang menggabungkan agama, sejarah, filsafat, ekonomi, teknologi, kepemimpinan, dan keterampilan organisasi. Kaderisasi harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, bekerja, memimpin, dan mengabdi.
Kedua, menghidupkan kembali ekonomi umat melalui koperasi modern, jaringan usaha anggota, pendampingan UMKM, pendidikan kewirausahaan, penguatan pertanian dan peternakan, serta pemanfaatan marketplace dan teknologi finansial.
Ketiga, memperluas ruang aktualisasi anak muda. Mereka harus dilibatkan dalam perumusan gagasan, pengelolaan program, pengembangan media digital, dan penciptaan usaha produktif, bukan hanya dipanggil ketika organisasi membutuhkan panitia.
Keempat, memperkuat posisi politik organisasi sebagai kekuatan moral yang mandiri. Syarikat Islam harus mampu menyampaikan kritik berbasis data, mengawal kebijakan publik, dan memastikan kader yang berada di ruang kekuasaan tetap berpihak kepada rakyat.
Kelima, membangun budaya eksekusi. Setiap keputusan harus memiliki penanggung jawab, target, jadwal, dan ukuran keberhasilan. Organisasi sering tidak kekurangan keputusan, tetapi kekurangan pelaksanaan. Keputusan tanpa pelaksanaan hanyalah dokumen, program tanpa keberlanjutan hanyalah acara, dan rapat tanpa tindakan hanyalah percakapan.
Milad tidak boleh hanya bertanya berapa banyak kegiatan, pengurus, cabang, dan rapat yang telah dilakukan, tetapi:
“Berapa banyak perubahan yang dihasilkan?”
“Berapa banyak kader yang benar-benar tumbuh?”
“Berapa banyak cabang yang hidup?”
“Berapa banyak keputusan rapat yang dilaksanakan?”
Menghidupkan Kembali Ruh Syarikat
Syarikat Islam tidak perlu menjadi salinan organisasi tahun 1910. Zaman, teknologi, ekonomi, dan politik telah berubah. Karena itu, bentuk perjuangan juga harus berubah, sementara prinsip dasarnya tetap hidup yaitu persatuan, kemandirian ekonomi, pendidikan, keadilan, martabat manusia, keberanian politik, dakwah, kaderisasi, dan pembelaan terhadap rakyat.
Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui rapat umum dan surat kabar, hari ini ia juga berlangsung melalui media digital. Jika dahulu penguatan ekonomi dilakukan melalui jaringan saudagar, kini dapat diperluas melalui koperasi modern, marketplace, teknologi finansial, dan jaringan usaha. Kaderisasi harus menggabungkan agama, sejarah, filsafat, ekonomi, teknologi, kepemimpinan, dan keterampilan organisasi.
Warisan tidak boleh disalin. Warisan harus dihidupkan kembali dalam bentuk baru.
Sejarah besar hanya berarti apabila melahirkan masa depan yang besar. Penghormatan tertinggi kepada para pendiri bukan mengulang nama mereka dalam pidato, melainkan meneruskan keberanian mereka dalam konteks zaman kita.
Syarikat Islam: Museum atau Laboratorium?
Apakah Syarikat Islam akan menjadi museum sejarah, tempat orang mengenang Samanhudi dan Tjokroaminoto? Ataukah ia menjadi laboratorium perjuangan dimana sebagai tempat gagasan dilahirkan, kader ditempa, usaha dibangun, intelektual muda tumbuh, persoalan rakyat dibahas, dan solusi diuji?
121 tahun bukan alasan untuk berkata, “Kita sudah melakukan banyak hal,” melainkan untuk menyadari: “Kita masih mempunyai banyak pekerjaan.”
Rakyat, anak muda, petani, dan pedagang kecil hidup dalam persoalan hari ini. Organisasi perjuangan harus hadir di hari ini.
Milad ke-121 harus membawa Syarikat Islam pada pertanyaan masihkah ia memiliki gagasan besar, basis kader kuat, agenda ekonomi rakyat, pendidikan politik, kemampuan berbicara kepada generasi muda, ruang kritik, keputusan yang diterjemahkan menjadi tindakan, dan manfaat nyata bagi masyarakat?
Yang paling penting:
Masihkah ruh perjuangan itu hidup?
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan kata-kata, tetapi dengan karya, kader, ekonomi, pendidikan, dakwah, keberanian, dan pengabdian kepada rakyat.
Jangan Hanya Mewarisi Nama
121 tahun adalah perjalanan panjang, tetapi umur bukan prestasi terakhir sebuah gerakan. Yang penting adalah apa yang dilakukan dengan umur tersebut.
Syarikat Islam mewarisi sejarah besar sekaligus amanah besar. Kita tidak boleh hanya mewarisi nama, tetapi harus mewarisi semangat.
Samanhudi memulai perjuangan dari persoalan nyata masyarakat. Tjokroaminoto mengorganisasi, mendidik, dan membangun kesadaran. Generasi hari ini harus berani keluar dari bayang-bayang mereka dan menciptakan sejarah baru.
Milad ke-121 harus menjadi titik balik dari organisasi yang sekadar memperingati sejarah menjadi gerakan yang kembali menciptakan sejarah.
Bangsa membutuhkan organisasi yang masih berguna. Umat membutuhkan kekuatan yang membela kepentingannya. Anak muda membutuhkan ruang untuk tumbuh. Sejarah membutuhkan kita untuk melanjutkan perjuangannya.
Maka pertanyaan terbesar bukan:
“Sudah berapa lama kita berdiri?”
Melainkan:
“Untuk apa kita masih berdiri?”
Jika jawabannya adalah meneruskan perjuangan Islam, membangun keadilan, memperkuat ekonomi umat, mencerdaskan masyarakat, melahirkan kader, dan menjaga martabat manusia, maka 121 tahun bukan akhir, melainkan awal babak baru.
Namun jika kita hanya mengulang kejayaan masa lalu tanpa melahirkan karya baru, sejarah besar itu akan berubah menjadi sekadar kenangan. Tidak ada ironi yang lebih menyedihkan bagi gerakan perjuangan selain ketika nama besarnya masih hidup, tetapi api perjuangannya telah padam.
Karena itu, tugas generasi hari ini bukan menjaga agar Syarikat Islam sekadar tetap ada, melainkan menghidupkan kembali ruhnya dengan gagasan, kader, kerja, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat.
Sejarah tidak akan bertanya berapa kali kita merayakan Milad. Sejarah akan bertanya:
Apa yang kita perjuangkan ketika zaman membutuhkan keberanian?
Di sanalah generasi sesudah kita akan menentukan apakah 121 tahun Syarikat Islam Indonesia hanya dikenang sebagai sejarah besar atau menjadi awal dari sejarah besar berikutnya.
Wallahu’alam
Pondok Syarikat 11 Oktober 2026




