Mengapa mengejar langit, jika ia telah singgah dalam sebutir sunyi
Di antara ribuan cahaya, langkahku tak pernah berhentipada yang paling terang
Aku memilih bening teduh di sepasang mata yang menyentuh luka tanpa sepatah tanya
Engkau hadir tanpa mahkota
Namun kehadiranmu membuat badai lupa bagaimana caranya murka
Sejak itu, angin belajar berbicara pelan, dedaunan menemukan arti sujud, dan embun melafalkan doa di pangkuan mentari pagi.
Kupandang engkau bagai seorang pengembara yang akhirnya mengenali rumahnya, meski baru pertama kali berdiri di ambang pintu
Barangkali setiap pencarian tidak berakhir ketika kaki sampai di rumah, melainkan saat hati tak lagi merasa asing
Jika engkau jelmaan cahaya, biarkan aku menjadi jendela yang tak memiliki sinar
Cukuplah aku terbuka agar terangmu menyelinap ke segala arah dan menyinari dunia
Dan bila waktu memisahkan langkah kita, aku tak akan mengejar bayangmu
Sebab sekali jiwa disentuh cahaya sejati, ia akan menetap bahkan ketika malam kehabisan gelap




