Sastra Perjalanan Jurnalistik di Bumi Ngalau Kamang Negerinya Pejuang

Puisi dan Sastra1791 Dilihat

Kamang Magek Banuaminang.co.id Dua orang jurnalis yaitunya dari Banuaminang.co.id (iing chaiang selaku kepala investigasi BanuaMinang grub dan redaksi Banuaminang.co.id dan dari figurnews.com (Fuad Riza selaku Kabiro Agam, Bukittinggi dan Padang Panjang) berhasil menebus pagar besi yang dibuat oleh pihak PT. Bakapindo.

Bukannya tidak beretika… Hal ini sebelumnya telah meminta izin kepada pihak PT. Bakapindo yang konon khabarnya pemilik lokasi ini.

 

Kedua orang jurnalis ini dengan mengendari 2 unit sepeda motor butut dan sudah tua pula, berhasil melalui jalur setapak (karena sudah lama jalan ini ditutup, sehingga akses jalan ini berupa jalan setapak/red) dari kampung Durian menuju kampung Aia Tabik pada hari Khamis 15 Juni 2023.

Alangkah mirisnya perbedaan jalan ini. Kalaulah tidak hati-hati tentunya akan terjatuh bersama kendaraan ini.
Sebelumnya terlihat aktivitas perusahaan PT. Bakapindo dengan adanya terlihat beberapa mobil truk sedang mengisi muatan. Dan juga terlihat beberapa alat berat sedang istirahat mungkin dikarenakan lelah ataukah kelelahan.? Pemandangan bukit yang siap dikeruk pun menambah eksotik nya panorama ciptaan Tuhan yang berubah bentuk, karena ulah tangan manusia.

 

Tidak berapa lama setelah itu, pemandangan alami tersuguhkan dengan elok, jiwa adventure kembali mendidih. Kenapa tidak panorama jalan setapak nan diapit rerumputan tinggi tersaji indah bagi sang pecinta alam. Tidak terlihat bekas-bekas jalan nan dulu konon khabarnya dibuat dizaman Belanda dan dipercantik dizaman Soeharto dan menjadi jalan setapak bak jalan gerilya pejuang kemerdekaan ataupun jalan pejuang perang Kamang menuju persembunyian ke markas Ngalau Kamang yang kini berubah menjadi hunian ribuan kelelawar di zaman Jokowi.

 

Pemandangan sawah selaku masyarakat pedesaan tersaji dengan beberapa sawah yang berubah fungsi menjadi ladang dan kebun, yang konon kabarnya saluran airnya tersumbat lantaran timbunan batu yang sengaja diledakkan oleh oknum pemilik perusahaan yang dikabarkan pemberani dan sempat menutup pagar akan hadirnya ketua komisi dari wakil rakyat yang mencoba membuktikan aduan dari warga.

 

Lebih mirisnya lagi kaki salah seorang wartawan diwaktu mengiringi sang singa betina nya wakil rakyat Agam ini (Aderia/red) terjepit oleh kokoh dan kuatnya pagar besi nan dibangun oleh Perusahaan ini.
Alangkah arogannya.? Ujar narasumber kepada kami.

 

Beberapa warga nan berprofesi sebagai petani, tidak sengaja kami jumpai dijalan setapak ini. Pembuktian sebagai petani dikarenakan sabit dan rerumputan yang bertengger diatas kepala mereka. Sudah cukup bukti menandakan beliau adalah petani dan peternak.

 

Keramahtamahan tercipta sudah, sebatang rokok pembuka cerita. Jiwa jurnalistik kembali bekerja.. ada beberapa pertanyaan dan jawaban. Ada sekumpal asa pun harapan terselip diwajah tua mereka..

 

“Tidak pernah kami jumpai makhluk yang mengendarai motor melintasi jalan penuh kenangan ini” ucapnya dalam bahasa dan logat kedaerahan yang kental, dengan mimik curiga. Yang dapat dibaca “siapakah anda?”
Anda wartawan (?) Mimik curiga dan penuh harap.

 

“Sampaikanlah kepada mereka (para penguasa dan pemilik kuasa/red), karena suara kami tidak lagi berarti, dibutuhkan hanya untuk pemilihan umum saja” ujar rona-rona nan merasa tersisihkan.

 

“Kemana lagi, kami harus mengadu?. Pinta kami datang dan kunjungilah kami dan lihat pengaduan kami, apakah kami membohongi anda (maksudnya penguasa/red) jangan hanya duduk nikmati megahnya tahta pun singasana. Kunjungi dan tengoklah kami selaku warga.” terdengar dengus nafasnya nan kuat menahan amarah.

 

Padamu wahai jurnalis, suarakan lah derita warga, agar kacamata mereka terbuka dan katakan sejujurnya lewat berita ataupun pena atau wujud gambar karena kami tau itulah senjata mulia para pencatat sejarah, harap mereka nan gelegarkan Sukma kami selaku jurnalis pemula.

 

Lebih kurang sekira tiga kilometer hitungan duga-duga. Kami tiba di persimpangan jalan nan boleh dibilang jalan. Karena berbentuk jalan dan bisa dilewati kendaraan bukan cuma dan hanya setapak. Warga sekitar saat dikonfirmasi menyatakan “Alhamdulillah anda sudah sampai di Aia Tabik.” Menyambut kami dengan senyum penuh keheranan dan tanda tanya.

 

Jalanan nan boleh dibilang mulus untuk tingkat dan level desa, tersaji indah.. langsung tancap gas.. pulang kerumah rindui kopi buatan sang istri tercinta dalam senyum mesra nan selalu jadi kenyamanan nan terindah.

(iing chaiang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *