Di Antara Tren dan Tradisi: Wajah Baru Kebudayaan Masa Kini
Sekarang hampir semua hal berubah cepat banget. Baru hari ini ada tren baru di media sosial, minggu depan biasanya sudah muncul tren lain lagi. Kadang belum sempat ikut, orang-orang sudah pindah ke hal baru. Mulai dari cara berpakaian, musik, bahasa gaul, sampai tempat nongkrong, semuanya gampang berubah karena pengaruh internet dan media sosial.
Di tengah keadaan seperti itu, saya kadang kepikiran, budaya tradisional sekarang sebenarnya masih dekat nggak sih sama anak muda? Karena jujur aja, sekarang banyak orang lebih sibuk ngikutin apa yang viral daripada mengenal budaya daerah sendiri. Banyak yang hafal lagu TikTok, tapi nggak hafal lagu daerah. Banyak yang suka budaya luar, tapi malah jarang tahu cerita tentang budayanya sendiri.
Tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya budaya tradisional nggak benar-benar hilang. Budaya cuma berubah bentuk dan cara penyampaiannya saja. Sekarang semuanya dibawa masuk ke dunia digital, jadi budaya juga ikut menyesuaikan diri.
Saya pernah lihat di media sosial ada anak muda yang bikin konten tentang rumah gadang, pakaian adat Minang, sampai makanan tradisional dengan cara yang santai dan lucu. Ternyata banyak juga yang nonton dan tertarik. Dari situ saya sadar, ternyata anak muda masih peduli budaya, cuma pendekatannya memang beda dari dulu.
Kadang masalahnya budaya sering dikenalkan terlalu serius. Jadi banyak orang langsung merasa bosan duluan. Padahal kalau dibawa santai, sebenarnya budaya itu dekat banget sama kehidupan sehari-hari.
Sekarang misalnya banyak anak muda mulai pakai pakaian tradisional dengan gaya modern. Ada juga lagu daerah yang dibuat versi remix supaya lebih gampang masuk ke telinga generasi sekarang. Awalnya mungkin terdengar aneh, tapi ternyata justru bikin orang kembali dengar lagu daerah yang sebelumnya hampir dilupakan.
Menurut saya, itu bukan hal buruk. Karena kalau budaya terus dipertahankan dengan cara lama tanpa mengikuti zaman, lama-lama bisa makin jauh dari anak muda. Dunia berubah, jadi cara memperkenalkan budaya juga harus ikut berubah.
Tapi di sisi lain, kadang saya juga merasa ada bagian budaya yang sekarang jadi terlalu dijadikan tren. Misalnya orang pakai pakaian adat cuma buat foto estetik atau bikin konten supaya viral. Setelah itu selesai, nggak ada lagi rasa ingin tahu tentang makna budayanya sendiri.
Hal seperti itu sebenarnya cukup sering kelihatan sekarang. Banyak orang suka tampilan luarnya, tapi nggak terlalu peduli cerita di baliknya. Budaya akhirnya cuma jadi hiasan sementara di media sosial.
Saya juga pernah ngerasa begitu. Kadang saya ikut suka lihat konten budaya yang keren di internet, tapi setelah dipikir lagi, saya sendiri belum tentu benar-benar paham maknanya. Dari situ saya sadar kalau mengenal budaya ternyata nggak cukup cuma lewat lewat saja.
Kalau dibandingkan generasi dulu, cara menjaga budaya sekarang memang beda. Dulu orang belajar budaya langsung dari keluarga, lingkungan, atau acara adat di kampung. Sekarang banyak anak muda lebih sering kenal budaya lewat internet. Jadi hubungan dengan budaya juga terasa berbeda.
Jujur saja, kadang saya merasa budaya sekarang seperti ada di tengah-tengah. Nggak sepenuhnya tradisional, tapi juga nggak sepenuhnya modern. Ada campuran di antara keduanya.
Contohnya di Minangkabau sendiri, sekarang banyak acara adat yang masih dijalankan, tapi suasananya sudah beda dari dulu. Orang tetap memakai pakaian adat, tetap menjalankan tradisi, tapi di saat yang sama semua orang juga sibuk merekam buat upload ke media sosial. Kadang lucu juga lihatnya, tapi memang begitulah keadaan sekarang.
Menurut saya, sebenarnya itu bukan masalah besar selama nilai utamanya masih ada. Karena budaya bukan cuma soal bentuk luar seperti pakaian atau acara adat. Budaya juga soal cara menghargai orang lain, cara berbicara, cara hidup di lingkungan masyarakat, dan itu masih bisa dijaga walaupun zaman berubah.
Saya rasa anak muda sekarang sebenarnya masih punya rasa peduli terhadap budaya, cuma caranya berbeda. Ada yang mengenalkan budaya lewat konten video, lewat musik, lewat desain pakaian, bahkan lewat foto-foto estetik. Walaupun kelihatannya sederhana, tetap ada usaha supaya budaya itu nggak hilang begitu saja.
Mungkin memang sekarang zamannya budaya berjalan berdampingan dengan tren. Keduanya saling masuk satu sama lain. Kadang tradisi ikut jadi modern, kadang tren modern malah mengambil unsur budaya lama.
Menurut saya yang penting bukan memilih antara budaya atau tren, tapi bagaimana tetap tahu batasnya. Jangan sampai terlalu sibuk mengikuti hal viral sampai lupa sama identitas sendiri.
Karena pada akhirnya, tren biasanya datang dan pergi cepat. Tapi budaya tetap jadi bagian yang bikin seseorang ingat dari mana dia berasal. Dan menurut saya, justru di situlah menariknya kebudayaan masa kini. Budaya nggak lagi berdiri jauh dari anak muda, tapi mulai masuk ke kehidupan sehari-hari dengan cara yang lebih santai dan lebih dekat dengan zaman sekarang.
Penulis: Muhammad Faiz Hibahtullah (Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)






