Ufuk Terakhir Beri Risalah by Bumiara

Puisi dan Sastra166 Dilihat

Ufuk Terakhir beri risalah
by Bumiara

Jika aku hanya serpihan kabar yang terlempar dari zaman, akankah kau membaca makna atau membakarnya bersama ketakutan

Pada mata yang kehilangan cahaya, kulihat kota-kota berdiri dari dusta. Menara menjulang memeluk langit, namun pondasi dibuat dari luka.

Anak-anak bermain dengan bayang, mengira gelap adalah sahabat. Sedangkan para penjaga gerbang menjual mimpi kepada rakyat penat.

Ketika palu menghantam meja, yang hancur bukan kayu pengadilan, melainkan nurani yang telah lama tertukar dengan harga kekuasaan.

Lihatlah… balik senyum yang dipoles cahaya, ada bara yang diam-diam tumbuh, menunggu angin mengubahnya menjadi lautan api tanpa tepian.

Langit berkali-kali mengirim tanda, melalui hujan, gempa, dan musim yang luka. Namun manusia terlalu sibuk hitung emas di tangannya.

Kelak ketika cangkang sejarah pecah dan waktu membuka wajah aslinya, tiada benteng yang mampu berdiri di hadapan tetapan-Nya.

Sebab yang jatuh bukan gunung, bukan pula lautan, melainkan kesombongan manusia yang mengira dirinya abadi.

Dan dari ufuk terakhir terdengar suara “Segala yang kau tanam, akan kembali memanggil namamu.”

######