Tradisi Marosok di Kabupaten Solok
Penulis: Fadilla Pratiwi
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas
Sumatera Barat adalah wilayah Minangkabau, yang memiliki banyak tradisi dan budaya yang berbeda. Tradisi marosok adalah salah satu yang masih ada hingga saat ini. Tradisi ini dapat ditemukan di pasar hewan di seluruh Sumatera Barat, termasuk Kabupaten Solok. Marosok adalah metode pembelian dan penjualan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau yang berbeda dari pasar biasa. Tradisi ini unik karena tawar-menawar harga dilakukan tanpa suara, tetapi melalui gerakan jari tangan yang disembunyikan di balik kain atau sarung.
Kata “marosok” berasal dari bahasa Minangkabau, dan berasal dari kata “rosok”, yang berarti “pegang” atau “raba”. Dalam tradisi ini, marosok berarti tawar-menawar sambil memegang tangan satu sama lain atau raba jari tangan di bawah kain penutup. Untuk menentukan harga, penjual dan pembeli tidak perlu berbicara. Mereka hanya menggunakan kode jari yang telah disepakati oleh para pedagang ternak yang ada di sana. Keunikan ini membuat tradisi marosok menarik bagi masyarakat dan menarik wisatawan yang ingin belajar tentang budaya Minangkabau.
Tradisi marosok di Kabupaten Solok terutama dilakukan di pasar ternak Muaro Paneh di Kecamatan Bukit Sundi. Pasar hewan ternak ini berkembang menjadi salah satu pusat dagang hewan ternak terbesar di daerah Solok. Setiap hari Senin, pasar Muaro Paneh penuh dengan pembeli dan pedagang dari berbagai daerah. Mereka datang untuk membeli atau menjual sapi, kambing, dan kerbau dengan cara yang sudah ada sejak lama.
Ketika penjual dan pembeli mencapai kesepakatan bersama untuk transaksi, maka proses pelaksanaan tradisi marosok dimulai. Berdiri berhadapan, kedua belah pihak memegang tangan satu sama lain sambil menutupnya dengan kain sarung atau topi. Penutup ini sangat penting karena tujuannya adalah untuk menjaga harga yang sedang dinegosiasikan tetap rahasia. Tradisi ini berkembang di masa lalu karena penjual dan pembeli harus menjaga harta benda mereka dari pencuri saat mereka bepergian dan harga transaksi tidak akan diketahui oleh orang lain.
Setelah tangan tertutup kain, proses tawar-menawar mulai dengan pakai gerakan jari. Setiap jari punya nilai angka tertentu yang sudah disepakati para pedagang. Jari telunjuk dianggap sebagai pusat dari transaksi ini. Nilai jari telunjuk bisa bernilai 1 juta atau 10 juta rupiah, tergantung pada perkiraan harga hewan ternak yang sedang diperdagangkan. Jika penjual ingin jual sapi seharga Rp5 juta, maka penjual akan menggenggam jari telunjuk pembeli yang melambangkan Rp10 juta, lalu lima jari lainnya digenggam dan digoyangkan ke kiri sebagai tanda kurangi sebesar Rp5 juta.
Aturan dalam gerakan jari marosok cukup jelas dan dipahami semua pedagang. Ketika jari diputar, itu berarti harga dikurangi. sedangkan ketika jari cuma dipegang tanpa diputar, itu berarti harga tidak dikurangi. Pembeli bisa kasih kode di tangannya untuk tawar harga, lalu penjual akan kasih respons dengan mengangguk atau menggeleng sebagai tanda setuju atau tidak setuju. Proses ini terus berjalan sampai kedua belah pihak mencapai kesepakatan harga yang memuaskan penjual dan pembeli.
Tradisi marosok mencakup tidak hanya beli jual, tetapi juga mempertahankan hubungan dan kepercayaan antara penjual dan pembeli. Tradisi ini memaksa kedua belah pihak untuk saling percaya satu sama lain karena tidak ada tulisan atau pembicaraan terbuka yang dapat berfungsi sebagai bukti jika terjadi masalah di masa mendatang. Kepercayaan ini berasal dari prinsip-prinsip budaya Minangkabau yang mengutamakan raso jo pareso, yang berarti rasa dan pertimbangan. Singkatnya, setiap tindakan harus didasarkan pada pertimbangan yang matang dan rasa yang jujur.
Tradisi marosok memiliki nilai kepercayaan serta nilai persaudaraan dan tolong-menolong. Mereka memiliki sikap saling memberi dan tolong-menolong meskipun mereka bersaing dalam dagang. Anak-anak atau orang yang ingin belajar akan diajarkan tradisi marosok oleh pedagang yang sudah berpengalaman. Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga tetap konsisten sampai hari ini.
Tradisi marosok di Solok dan wilayah Sumatera Barat lainnya masih aktif dilakukan sampai hari ini. Pasar ternak di berbagai daerah punya jadwal pasaran yang beda-beda. Di Muaro Paneh, Kabupaten Solok, pasaran berlangsung pada hari Senin. Sementara di Koto Baru, Padang Panjang pada hari Selasa, di Bukittinggi dan Padang Pariaman pada hari Rabu, di Nagari Cubadak, Kabupaten Tanah Datar pada hari Kamis, di Nagari Palangki, Sijunjung pada hari Sabtu, dan di Payakumbuh pada hari Minggu. Kecuali hari Jumat, tradisi marosok bisa ditemukan hampir setiap hari di berbagai pusat pasar ternak Sumatera Barat.
Tradisi ini semakin ramai dilakukan menjelang perayaan Idul Adha karena permintaan hewan ternak untuk kurban meningkat banyak. Pada masa ini, pasar ternak di Solok dan daerah lain jadi sangat sibuk dengan aktivitas jual beli yang pakai sistem marosok. Banyak pembeli dari berbagai daerah datang untuk beli sapi atau kerbau yang sehat dan bagus untuk dijadikan hewan kurban. Walaupun sistem transaksi modern sudah sangat berkembang, namun para pedagang ternak Minangkabau tetap pertahankan tradisi marosok sebagai identitas budaya mereka.
Pemerintah Indonesia mengakui pentingnya tradisi marosok bagi masyarakat Minangkabau. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menetapkan tradisi marosok di Kabupaten Sijunjung sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Pengakuan ini menunjukkan bahwa tradisi marosok memiliki nilai budaya yang signifikan dan layak dilestarikan. Meskipun ini berasal dari Kabupaten Sijunjung, pengakuan ini juga mencakup kebiasaan marosok di daerah lain di Sumatera Barat, seperti Kabupaten Solok.
Tradisi marosok masih ada di dunia saat ini, meskipun jual beli semakin mudah dilakukan secara online. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya tradisi ini sangat kuat dan tidak mudah hilang oleh teknologi modern. Para pedagang ternak tetap percaya bahwa metode marosok lebih efektif untuk menjaga kerahasiaan harga dan menciptakan hubungan yang positif antara penjual dan pembeli. Tradisi ini juga merupakan bagian dari identitas budaya Minangkabau dan harus dilestarikan untuk generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Solok dan Minangkabau secara keseluruhan, tradisi marosok merupakan cara untuk menunjukkan rasa hormat dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai tolong-menolong, kejujuran, kepercayaan, dan saling menghormati, yang sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat. Orang-orang diajarkan untuk berdagang dengan tulus dan menghormati satu sama lainnya. Di tengah kehidupan yang modern yang seringkali sibuk dan jauh dari gotong royong, nilai-nilai ini semakin penting.
Peran generasi muda sangat penting untuk mempertahankan tradisi marosok. Mereka harus dididik tentang cara hidup marosok dan nilai-nilai budayanya. Banyak pedagang tua khawatir bahwa tradisi ini akan hilang karena generasi muda lebih suka menggunakan metode transaksi modern. Oleh karena itu, perlu ada upaya khusus untuk mengenalkan dan mengajarkan tradisi marosok kepada anak-anak dan remaja, baik di lingkungan masyarakat maupun di sekolah.
Pemerintah daerah juga bertanggung jawab atas pelestarian tradisi marosok. Mungkin dilakukan beberapa hal, seperti mengadakan festival atau acara budaya yang menampilkan tradisi marosok, memberikan penghargaan kepada pedagang yang aktif mempertahankan tradisi ini, dan memasukkan materi tentang marosok ke dalam pelajaran budaya di sekolah. Diharapkan dengan berbagai upaya ini, tradisi marosok dapat tetap hidup dan berkembang di masyarakat Solok dan Sumatera Barat secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, tradisi marosok Solok adalah warisan budaya yang sangat berharga dan istimewa. Tradisi ini mencakup nilai-nilai budaya Minangkabau yang mengajarkan kejujuran, kepercayaan, tolong-menolong, dan saling menghormati, serta cara membeli dan menjual hewan ternak. Masyarakat Minangkabau menunjukkan bahwa mereka dapat mempertahankan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi tanpa kehilangan identitas budaya mereka. Ini ditunjukkan oleh penduduk yang tinggal di desa-desa mereka. Untuk itu, mari kita bersama-sama jaga dan lestarikan tradisi marosok agar tetap ada untuk generasi mendatang di Kabupaten Solok dan Sumatera Barat.



