Tradisi Ma Apam: Salah Satu Tradisi Unik yang Ada di Air Bangis Pasaman Barat
Penulis: Aidil Adha
Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Tradisi merupakan segala sesuatu yang berupa adat, kepercayaan dan kebiasaan. Kemudian adat, kepercayaan, dan kebiasaan itu menjadi ajaran-ajaran atau paham-paham yang turun temurun dari para pendahulu kepada generasi selanjutnya (Koetjaningrat, 2009;185)
Kabupaten Pasaman Barat memiliki salah satu tradisi khusus dalam memperingati datangnya bulan suci ramadan yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini. Sebagian dari masyarakat Pasaman Barat merupakan masyarakat Minangkabau, sehingga tradisi yang berkembang dapat dikatakan seragam. Kabupaten Pasaman Barat ini merupakan sebuah kabupaten yang terletak di ujung utara dari provinsi Sumatera Barat yang langsung berbatasan dengan provinsi Sumatera Utara. Dimana sebagian dari masyarakat setempat merupakan masyarakat Minangkabau. Dalam menyambut bulan suci ramadan, masyarakat Pasaman Barat mempunyai tradisi maapam.
Maapam adalah tradisi memasak apam yang telah dilakukan oleh masyarakat Air Bangis Pasaman Barat sejak zaman nenek moyang, memasak apam sudah menjadi tradisi unik yang berasal dari daerah Pasaman Barat yang sudah diwariskan secara turun temurun.
Tradisi maapam biasanya dilakukan oleh masyarakat untuk memperingati Isra Mi’raj ataupun menyambut datangnya bulan suci ramadan, sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan karena kembali dipertemukan dengan bulan penuh keberkahan. Bahan-bahan membuat apam yaitu tepung beras yang sudah di tumbuk, santan kelapa, garam, gula dan gula aren. Semua bahan dicampur menjadi satu, lalu diaduk hingga menjadi adonan putih. Memasak apam masih menggunakan tungku api atau alat memasak tradisional dengan kuali dari besi. Sumber apinya sendiri berasal dari daun kelapa.
Tradisi maapam sendiri juga tidak melulu soal menyambut bulan suci ramadan dengan penuh antusias. Dibalik itu semua, tradisi ini juga memiliki makna dan simbol yang begitu mendalam di lapisan masyarakat. Tradisi menjadi bentuk nyata dari sikap gotong royong antar sesama masyarakat. Praktik ini terjadi ketika dalam proses pembuatan apam dilakukan secara bersama-sama.
Pemerintahan kabupaten Pasaman Barat mengambil langkah konkret untuk memastikan tradisi maapam tetap hidup dan dikenal luas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendaftarkan maapam sebagai budaya non benda yang dilindungi secara nasional. Puncaknya terjadi pada tahun 2020, ketika tradisi maapam mencatat rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Dalam acara tersebut lebih dari 1000 tungku digunakan secara bersamaan untuk memasak apam. Prestasi ini tidak hanya membutuhkan antusiasme masyarakat dalam melestarikan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mengundang perhatian nasional dan internasional.
Pembahasan yang lebih luas mengenai tradisi maapam ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, baik dari segi sosial, budaya, ekonomi hingga identitas masyarakat lokal. Tradisi ini tidak hanya sekedar aktivitas memasak makanan khas, tetapi juga menjadi media yang mempererat hubungan antar warga. Dalam pelaksanaannya masyarakat dari berbagai kalangan, mula dari anak-anak, remaja hingga orang tua turut ambil bagian. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi maapam befungsi sebagai ruang interaksi sosial yang mampu menghubungkan generasi tua dengan generasi muda. Proses ini secara tidak langsung menjadi sarana transfer nilai-nilai budaya agar tetap hidup ditengah perkembangan zaman.
Dari segi budaya, maapam mencerminkan kearifan lokal masyarkat Minangkabau yang menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa syukur. Penggunaan alat-alat tradisional seperti tungku dan kuali besi juga menunjukkan bahwa masyarakat masih mempertahankan cara-cara lama yang syarat makna. Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, keberadaan tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kesadaran untuk menjaga identitas budaya mereka. Bahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini sejalan dengan prinsip adat Minangkabau yang terkenal dengan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang menekankan bahwa adat dan agama berjalan beriringan.
Selain itu dari sisi ekonomi tradisi maapam juga memiliki potensi yang cukup besar. Kegiatan ini mampu menarik perhatian wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah. Dengan adanya event besar seperti pemecahan rekor MURI, Air Bangis semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Sumatera Barat. Hal itu tentu berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat, misalnya dengan meningkatnya penjualan bahan makanan, kerajinan lokal serta jasa lainnya. Jika dikelola dengan baik, tradisi maapam dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga produktif secara ekonomi.
Dari perspektif pendidikan, tradisi maapam juga memiliki nilai edukatif yang penting. Generasi muda dapat belajat mengenai sejarah, proses pembuatan makanan tradisional, hingga nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran kontekstual yang menarik, terutama dalam mengenalkan budaya lokal kepada pelajar. Dengan demikian, maapam tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber pengetahuan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Namun disisi lain, tantangan dalam menjaga kelestarian tradisi ini tetap ada. Perubahan gaya hidup masyarakat, pengaruh budaya luar, serta kurangnya minat generasi muda dapat menjadi ancaman bagi keberlanjutan tradisi maapam. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak, baik pemerintah, tokoh adat, maupun masyarakat itu sendiri untuk terus melestarikan tradisi ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi agar tradisi maapam semakin dikenal oleh generasi muda.
Secara keseluruhan tradisi maapam di Air Bangis Pasaman Barat bukan hanya sekadar kegiatan memasak apam, tetapi merupakan simbol kebersamaan, identitas budaya, serta bentuk rasa syukur masyarkat dalam menyambut momen-momen penting keagamaan. Keberadaannya menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah perkembangan zaman. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan tradisi ini merupakan tanggungjawab bersama agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
