Serambi Waktu by Bumiara

Puisi dan Sastra122 Dilihat

 

Tiada lagi kuhitung hari, karena ia telah menjadi debu yang singgah di sajadah sepi

Kini yang kuhitung hanyalah namamu yang tumbuh di antara getar yang berpura-pura tegar

Langit pernah berkalam,

“Setiap rindu adalah burung yang terbang mencari pohon yang masih sanggup berdiri.”

Lalu kulepas burung-burung itu

Ada yang pulang membawa tetesan hujan

Ada yang hilang di jingga cakrawala

Namun ada pula yang memilih tinggal di dalam dada, menjadi kidung yang tak pernah selesai, menunggumu kembali

Jangan bertanya mengapa pintu ini masih terbuka

Karena rumah yang dibangun dari sejati cinta tak pernah mengenal kata terlambat

Yang kutahu, setiap yang pulang adalah mereka yang telah selesai berperang melawan dirinya sendiri

Namun, jika yang pulang bukanlah engkau,
aku tak akan menyalahkan takdir

Sebab cinta bukanlah tentang memiliki

Kadang ia hanya datang untuk mengajarkan bagaimana menjadi taman,
meski tahu tak akan pernah disambangi musim bunga

— Bumiara