Ketika Mesin Menjadi Hakim,Kemanusiaan Menjadi Korban

Puisi dan Sastra181 Dilihat

Ketika Mesin Menjadi Hakim, Kemanusiaan Menjadi Korban
Penulis Ardy mu’tamar

Penerimaan murid baru kini dibungkus dengan istilah-istilah modern: digitalisasi, transparansi, efisiensi, dan transformasi teknologi. Semua terdengar indah di ruang rapat. Namun di lapangan, tidak sedikit orang tua yang justru berhadapan dengan kebingungan, kegagalan unggah dokumen, gangguan sistem, hingga ancaman anak kehilangan hak pendidikan hanya karena kesalahan teknis.

Ironisnya, ketika aplikasi gagal, yang sering dianggap salah adalah manusia.

Seorang ibu yang tidak terbiasa menggunakan teknologi dianggap kurang cakap. Seorang ayah yang tidak memiliki laptop dianggap kurang siap. Koneksi internet yang buruk dianggap persoalan pribadi. Sementara sistem yang bermasalah tetap diperlakukan seolah-olah sempurna dan tak boleh dipertanyakan.

Inilah paradoks zaman digital.

Mesin yang seharusnya menjadi pelayan manusia perlahan diposisikan sebagai hakim yang putusannya tidak bisa diganggu gugat.

Padahal aplikasi tidak memiliki empati. Ia tidak tahu perbedaan antara penipuan dan ketidaktahuan. Ia tidak mengerti bahwa ada keluarga yang harus meminjam telepon genggam tetangga untuk mendaftarkan anaknya. Ia tidak memahami bahwa satu kesalahan klik bisa lahir dari kepanikan, bukan dari niat melanggar aturan.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak lembaga kini berlindung di balik sistem. Ketika muncul masalah, jawabannya sederhana:

“Sudah sesuai aplikasi.”

Kalimat itu terdengar seperti kemajuan, tetapi sering kali menjadi cara paling mudah untuk menghindari tanggung jawab.

Jika suatu sistem tidak menyediakan ruang koreksi bagi kesalahan manusia, maka sistem itu belum melayani manusia. Jika teknologi hanya menguntungkan mereka yang melek digital dan menyulitkan mereka yang tertinggal, maka yang sedang terjadi bukan transformasi, melainkan diskriminasi dalam kemasan modern.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan yang membuka kesempatan, bukan labirin digital yang menutup pintu bagi mereka yang paling membutuhkan.

Negara boleh bangga dengan aplikasi canggih. Sekolah boleh bangga dengan sistem daring. Tetapi kebanggaan itu kehilangan makna ketika seorang anak gagal masuk sekolah bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena orang tuanya kalah berhadapan dengan layar.

Kemajuan yang sejati bukanlah ketika semua urusan diserahkan kepada mesin. Kemajuan yang sejati adalah ketika teknologi dan kemanusiaan berjalan beriringan.

Sebab sejarah tidak akan mengingat seberapa canggih aplikasi yang kita miliki.

Sejarah akan mengingat apakah kita masih memiliki hati ketika berhadapan dengan sesama manusia.

Quote :

“Di negeri yang memuja digitalisasi, terkadang sinyal internet lebih berharga daripada air mata seorang ibu.”

“Mesin tidak pernah salah, kata mereka. Maka manusia yang selalu dipaksa menjadi tersangka.”

“Hari ini nasib anak ditentukan oleh unggahan berkas; besok mungkin ditentukan oleh seberapa cepat jari orang tuanya menekan tombol.”

“Ketika aplikasi lebih dipercaya daripada kenyataan, teknologi telah berubah dari alat menjadi berhala.”

“Kita tidak kekurangan teknologi. Kita mulai kekurangan empati.”

— Bumiara

News Feed