“Bukan zaman yang menentukan siapa kita. Sikap kita menghadapi zamanlah yang menentukan.”
Oleh: Ardinal Bandaro Putiah
Banuaminang.co.id–Ada zaman yang membuat manusia merasa kecil. Ada keadaan yang membuat seseorang merasa tidak berdaya. Ada masa ketika kehidupan seolah-olah bergerak terlalu cepat, sementara kita tertinggal jauh di belakang. Dunia berubah, teknologi berubah, ekonomi berubah, cara manusia berkomunikasi berubah, bahkan ukuran keberhasilan pun ikut berubah. Apa yang dahulu dianggap penting, hari ini mungkin dianggap tidak relevan. Apa yang dahulu menjadi prinsip, hari ini kadang dianggap sebagai sesuatu yang menghambat langkah.
Di tengah perubahan semacam itu, manusia dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi sangat menentukan: siapa sebenarnya diri kita ketika zaman berubah?
Apakah kita akan mengikuti setiap arus hanya karena takut dianggap tertinggal? Apakah kita akan mengubah prinsip hanya karena keadaan tidak lagi menguntungkan? Apakah kita akan mengorbankan keyakinan hanya agar diterima oleh lingkungan? Ataukah kita mampu berdiri dengan tenang, membaca perubahan, menyesuaikan langkah, tetapi tetap mengetahui ke mana kita hendak menuju?
Di sinilah makna kalimat:
“Bukan zaman yang menentukan siapa kita. Sikap kita menghadapi zamanlah yang menentukan.”
Kalimat ini bukan ajakan untuk melawan zaman secara membabi buta. Ia juga bukan seruan agar manusia menolak perubahan. Justru sebaliknya. Ia mengingatkan bahwa manusia harus mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Zaman hanyalah keadaan. Kita tidak selalu dapat memilih zaman tempat kita dilahirkan. Kita tidak dapat menentukan bagaimana ekonomi bergerak, bagaimana teknologi berkembang, bagaimana masyarakat berubah, bagaimana kekuasaan bekerja, atau bagaimana dunia memperlakukan kita.
Tetapi kita masih memiliki ruang untuk menentukan sikap.
Dan sering kali, di situlah letak kemerdekaan manusia yang sesungguhnya.
Zaman Tidak Pernah Netral
Setiap zaman membawa tantangannya sendiri.
Generasi terdahulu mungkin berhadapan dengan kolonialisme, keterbelakangan pendidikan, kemiskinan, dan perjuangan merebut kemerdekaan. Generasi setelahnya menghadapi persoalan pembangunan, ketimpangan, konflik politik, dan perubahan sosial. Sementara generasi hari ini berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks seperti tekanan ekonomi, persaingan yang semakin keras, arus informasi yang tidak terbendung, teknologi digital, perubahan pola kerja, konsumerisme, dan kehidupan sosial yang semakin cepat.
Zaman tidak pernah berhenti berubah
Tetapi manusia sering membuat kesalahan dengan menganggap bahwa perubahan zaman otomatis membenarkan perubahan prinsip.
Padahal tidak demikian.
Ada hal-hal yang memang harus berubah karena zaman berubah. Cara bekerja harus berubah. Cara berkomunikasi harus berubah. Strategi perjuangan harus berubah. Cara mengorganisir manusia harus berubah. Pengetahuan harus berkembang. Teknologi harus dipelajari.
Namun ada pula sesuatu yang tidak boleh berubah hanya karena zaman memberikan tekanan, yakni nilai.
Kejujuran tetap penting meskipun kebohongan kadang terlihat lebih menguntungkan.
Keadilan tetap penting meskipun ketidakadilan sering tampak lebih kuat.
Kebenaran tetap harus dicari meskipun kebohongan lebih cepat menyebar.
Martabat manusia tetap harus dihormati meskipun manusia semakin sering diperlakukan hanya sebagai angka, pasar, suara, konsumen, atau alat kepentingan.
Di sinilah manusia harus mampu membedakan antara beradaptasi dengan zaman dan menyerahkan diri kepada zaman.
Beradaptasi adalah kecerdasan
Menyerah kepada zaman adalah kehilangan arah.
Jangan Menjadi Produk Keadaan
Keadaan memang memiliki kekuatan yang luar biasa terhadap manusia.
Orang yang hidup dalam kemiskinan dapat kehilangan kepercayaan dirinya. Orang yang berkali-kali gagal dapat mulai percaya bahwa dirinya memang ditakdirkan untuk gagal. Orang yang terlalu lama mengalami tekanan dapat menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Demikian pula dalam kehidupan sosial.
Ketika lingkungan penuh dengan pragmatisme, manusia dapat menganggap pragmatisme sebagai sesuatu yang normal. Ketika orang-orang mengejar keuntungan pribadi, kita mulai berpikir bahwa kepentingan bersama adalah sesuatu yang naif. Ketika jabatan menjadi ukuran keberhasilan, kita mulai menganggap bahwa orang yang tidak memiliki jabatan berarti tidak memiliki nilai.
Padahal manusia bukan sekadar produk dari keadaan.
Manusia juga memiliki kemampuan untuk merespons keadaan.
Dua orang dapat hidup dalam keadaan yang sama, tetapi mengambil sikap yang berbeda. Dua orang dapat mengalami kegagalan yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Dua orang dapat menghadapi kesulitan ekonomi yang sama, tetapi salah satunya menyerah sementara yang lain menjadikannya alasan untuk belajar, bekerja, dan memulai kembali.
Perbedaannya bukan selalu pada keadaan.
Perbedaannya ada pada sikap.
Karena itu, jangan biarkan keadaan mendefinisikan seluruh diri kita.
Kita boleh mengatakan, “Saya sedang berada dalam keadaan sulit.”
Tetapi jangan buru-buru mengatakan, “Saya adalah manusia yang gagal.”
Kita boleh mengakui, “Hari ini saya belum berhasil.”
Tetapi jangan mengatakan, “Saya tidak akan pernah berhasil.”
Kita boleh mengatakan, “Jalan saya sedang tertutup.”
Tetapi jangan menyimpulkan, “Tidak ada lagi jalan.”
Ada perbedaan besar antara mengakui kenyataan dan menyerah kepada kenyataan.
Mengakui kenyataan adalah kedewasaan.
Menyerah kepada kenyataan tanpa berusaha mengubahnya adalah kekalahan sikap.
Idealisme Diuji oleh Zaman
Bagi seorang pejuang, persoalan yang paling berat bukanlah ketika perjuangan sedang berada di atas.
Persoalan paling berat justru muncul ketika idealisme berhadapan dengan kebutuhan nyata kehidupan.
Berbicara tentang keadilan sangat mudah ketika kita tidak sedang dirugikan. Berbicara tentang kejujuran mudah ketika kejujuran tidak membuat kita kehilangan sesuatu. Berbicara tentang perjuangan mudah ketika perjuangan masih memberikan penghargaan, jabatan, jaringan, atau keuntungan.
Tetapi bagaimana ketika semuanya berubah?
Ketika idealisme tidak lagi memberikan keuntungan?
Ketika perjuangan menjadi sunyi?
Ketika orang-orang mulai meninggalkan kita?
Ketika keadaan memaksa kita memilih antara kenyamanan dan prinsip?
Di situlah kualitas keyakinan diuji.
Ideologi yang hanya hidup dalam pidato belum tentu menjadi keyakinan. Keyakinan baru terlihat ketika ia harus dibayar dengan pengorbanan.
Karena itu, zaman yang sulit sebenarnya dapat menjadi cermin.
Ia memperlihatkan siapa yang benar-benar memiliki prinsip dan siapa yang hanya mengikuti arus.
Orang yang hidup nyaman dapat terlihat idealis. Tetapi orang yang tetap memegang prinsip ketika keadaan menjadi sulit menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Ia menunjukkan karakter.
Jangan Takut Berubah
Namun mempertahankan prinsip tidak berarti menolak perubahan.
Ini penting.
Ada orang yang menganggap bahwa menjadi ideologis berarti tidak boleh berubah. Akibatnya, mereka mempertahankan cara lama meskipun keadaan sudah berubah. Mereka menganggap strategi sebagai prinsip dan metode sebagai dogma.
Padahal zaman berubah.
Karena itu cara kita bergerak juga harus berubah.
Yang tidak boleh berubah adalah arah perjuangan, bukan setiap cara yang kita gunakan.
Jika dahulu orang berjuang melalui rapat dan pertemuan fisik, hari ini teknologi memungkinkan gagasan disebarkan melalui ruang digital. Jika dahulu pengetahuan diperoleh dari buku-buku yang terbatas, hari ini manusia memiliki akses kepada sumber pengetahuan yang jauh lebih luas. Jika dahulu membangun jaringan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sekarang komunikasi dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Tetapi teknologi tidak menentukan untuk apa semua itu digunakan.
Manusia yang menentukan.
Media sosial dapat digunakan untuk mencerdaskan atau memanipulasi.
Teknologi dapat digunakan untuk memberdayakan atau mengeksploitasi.
Kekuasaan dapat digunakan untuk melayani atau memperkaya diri.
Ilmu dapat digunakan untuk membebaskan atau menindas.
Karena itu masalah utama bukan semata-mata perubahan zaman.
Masalahnya adalah manusia seperti apa yang hadir di dalam perubahan itu.
Ketika Dunia Mengajarkan Pragmatisme
Salah satu tantangan terbesar zaman sekarang adalah pragmatisme.
Banyak hal diukur dari manfaat langsung.
Apa untungnya?
Apa hasilnya?
Apa yang saya dapat?
Siapa yang bisa membantu saya?
Berapa nilai ekonominya?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu salah. Manusia memang membutuhkan kehidupan ekonomi. Perjuangan juga membutuhkan sumber daya. Idealisme tanpa kemampuan mengelola kehidupan nyata dapat berubah menjadi romantisme kosong.
Tetapi ketika seluruh kehidupan hanya diukur berdasarkan keuntungan pribadi, manusia kehilangan sesuatu yang sangat penting: makna.
Tidak semua yang bernilai dapat dihitung dengan uang.
Mendidik anak memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar honor.
Menolong orang yang sedang kesulitan mungkin tidak menghasilkan keuntungan.
Menjaga persahabatan dalam keadaan sulit tidak selalu memberi manfaat material.
Mempertahankan kejujuran ketika kebohongan lebih menguntungkan mungkin membuat kita kehilangan kesempatan.
Namun manusia yang masih mampu melakukan semua itu sedang mempertahankan sesuatu yang lebih mahal daripada materi: martabat.
Sikap Menentukan Arah
Kita mungkin tidak dapat memilih badai, tetapi kita dapat memilih bagaimana memegang kemudi.
Kita mungkin tidak dapat menentukan kondisi ekonomi, tetapi kita dapat menentukan apakah kita akan berhenti berusaha.
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan pendapat orang lain, tetapi kita dapat menentukan apakah hidup kita akan sepenuhnya bergantung kepada penilaian mereka.
Kita mungkin tidak dapat menghentikan perubahan zaman, tetapi kita dapat menentukan apakah perubahan itu akan membuat kita semakin matang atau justru kehilangan arah.
Inilah makna terdalam dari sikap.
Sikap bukan sekadar pikiran.
Sikap adalah keputusan yang diterjemahkan menjadi tindakan.
Orang yang mengatakan dirinya berani tetapi tidak pernah berani mengambil risiko untuk sesuatu yang diyakininya belum tentu sedang menunjukkan keberanian.
Orang yang mengatakan dirinya idealis tetapi selalu mengubah prinsip ketika kepentingannya terganggu juga belum tentu sedang mempertahankan idealisme.
Sikap baru mempunyai makna ketika ia diuji oleh kenyataan.
Jangan Menunggu Zaman Menjadi Baik
Ada kecenderungan manusia menunda perjuangan sampai keadaan menjadi lebih baik.
Nanti kalau ekonomi sudah membaik.
Nanti kalau sudah punya uang.
Nanti kalau sudah punya jabatan.
Nanti kalau sudah banyak pengikut.
Nanti kalau keadaan sudah mendukung.
Masalahnya, “nanti” sering kali tidak pernah datang.
Setiap zaman mempunyai alasan untuk menunda.
Karena itu, manusia harus belajar melakukan sesuatu dari keadaan yang ada.
Bukan berarti menerima keadaan secara pasif. Justru sebaliknya: menggunakan apa yang masih tersedia untuk menciptakan kemungkinan baru.
Jika memiliki ilmu, gunakan ilmu.
Jika memiliki tenaga, gunakan tenaga.
Jika memiliki jaringan, bangun kerja sama.
Jika memiliki kemampuan menulis, menulislah.
Jika memiliki kemampuan berbicara, berbicaralah untuk menyampaikan kebenaran.
Jika memiliki kemampuan berorganisasi, bangun organisasi yang hidup.
Jika memiliki sedikit sumber daya, gunakan sedikit itu dengan sebaik-baiknya.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar.
Sering kali perubahan dimulai dari keberanian seseorang untuk mengatakan:
“Saya akan melakukan apa yang masih bisa saya lakukan.”
Pada Akhirnya, Kita Bertanggung Jawab atas Sikap Kita
Zaman akan terus bergerak.
Orang-orang datang dan pergi.
Kekuasaan berganti.
Ekonomi naik dan turun.
Teknologi berkembang.
Generasi berganti.
Apa yang kita miliki hari ini mungkin tidak kita miliki besok.
Tetapi sepanjang hidup, kita selalu memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana kita merespons semuanya itu.
Kita dapat memilih menjadi korban keadaan atau menjadi manusia yang belajar dari keadaan.
Kita dapat memilih mengutuk zaman atau membaca zaman.
Kita dapat memilih mengikuti arus atau menentukan arah.
Kita dapat memilih menjual prinsip demi kenyamanan atau mempertahankan prinsip sambil mencari cara baru untuk tetap hidup dan bergerak.
Pilihan itu tidak selalu mudah.
Bahkan terkadang sangat menyakitkan.
Tetapi justru di situlah letak kebebasan manusia.
Kita tidak selalu bebas memilih keadaan.
Namun kita mempunyai ruang untuk memilih sikap terhadap keadaan.
Maka jangan terlalu sibuk menyalahkan zaman.
Bacalah ia.
Pahami perubahan-perubahannya.
Pelajari kekuatan dan kelemahannya.
Gunakan teknologi yang tersedia.
Bangun kemampuan ekonomi.
Perkuat pengetahuan.
Perbaiki strategi.
Bangun jaringan.
Tetapi jangan kehilangan kompas.
Sebab orang yang tidak memiliki kompas akan tersesat ketika angin berubah. Dan zaman selalu berubah.
Mungkin hari ini kita berada di bawah.
Mungkin hari ini perjuangan kita belum menghasilkan apa-apa.
Mungkin hari ini orang lain tidak melihat apa yang sedang kita kerjakan.
Tidak mengapa.
Sebab nilai seorang manusia tidak selalu ditentukan oleh bagaimana dunia melihatnya pada hari ini.
Ada manusia yang baru dipahami setelah bertahun-tahun.
Ada gagasan yang baru diterima setelah generasinya berganti.
Ada perjuangan yang baru terlihat maknanya setelah pelakunya tidak lagi berada di tengah panggung.
Karena itu, jangan ukur seluruh perjalanan hanya dari keadaan hari ini.
Yang lebih penting adalah apakah kita masih mempunyai keberanian untuk melanjutkan perjalanan.
Bukan zaman yang menentukan siapa kita. Sikap kita menghadapi zamanlah yang menentukan.
Kalimat itu pada akhirnya bukan sekadar kata-kata motivasi.
Ia adalah panggilan untuk bertanggung jawab atas diri sendiri.
Ketika zaman menjadi sulit, kita tidak harus menjadi manusia yang ikut menjadi sulit untuk berbuat benar.
Ketika zaman menjadi pragmatis, kita tidak harus kehilangan idealisme.
Ketika zaman menjadi materialistis, kita tidak harus menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran kehidupan.
Ketika zaman membuat manusia saling berlomba mengejar kepentingan pribadi, kita masih dapat memilih untuk memikirkan kepentingan yang lebih luas.
Dan ketika keadaan memaksa kita jatuh, kita masih memiliki satu kebebasan yang tidak boleh kita serahkan kepada siapa pun:
kebebasan untuk bangkit.
Mungkin kita tidak mampu mengubah zaman seorang diri.
Tetapi kita selalu dapat menentukan manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan di dalam zaman itu.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah bentuk perjuangan yang paling mendasar:
bukan menunggu zaman berubah untuk menjadi manusia yang kita cita-citakan, melainkan menjadi manusia yang teguh agar mampu menghadapi zaman yang terus berubah.



