Litani Kabut dan Purnama by Bumiara

Puisi dan Sastra127 Dilihat

Litani Kabut dan Purnama
by Bumiara

Senja menumpahkan rona jingga
di bibir cakrawala tua,
sementara bayangmu berjalan pelan
di lorong kabut
yang dijahit angin sawah.

Aku mendengar bumi bernapas lirih
bau tanah basah,
desau daun,
dan burung-burung yang pulang
membawa sisa cahaya
ke sarang waktu.

Sedang aku
masih terdampar
di dermaga matamu.

Dadaku gamang
bagai gamelan retak
dipukul musim-musim kehilangan.

Dan cinta sewindu
ia bukan lagi jembatan,
melainkan sungai sunyi
yang memisahkan langit
dari pantulan dirinya sendiri.

Kau tumbuh
seperti anggrek liar
di pucuk kelapa paling sepi,
harummu jatuh perlahan
ke telaga batinku
yang lama kering.

Aku hanyalah musafir malam
dengan jubah debu dan luka,
menadah bulan
di sela jemari doa.

Embun turun
bagai tasbih kaca
di rerumputan pagi,
sedang bunga-bunga membuka warna
seperti rahasia cinta
yang tak pernah selesai diterjemahkan.

Sebab cinta
kadang tak ingin memiliki
ia hanya ingin tinggal
sebagai aroma
di balik hela napas kenangan.

Malam kemudian memetik dawai tua
di beranda rumah hujan.

Nada-nadanya menjelma kupu-kupu gelap,
hinggap di dinding sunyi
dan mengeja kembali
nama yang lama terkubur
di bawah lumut waktu.

Aku menulismu
dengan tinta kesepian,
di atas lembar langit
yang pucat oleh purnama.

Setiap kata
adalah pecahan cermin
yang memantulkan wajah rinduku sendiri.

Oooh… Marapi,
penjaga api purba,
teriakkan dukaku
ke telinga semesta
yang mabuk cahaya dunia.

Manusia terlalu sibuk
memburu gemerlap,
hingga lupa
bahwa luka pun memiliki sajadahnya sendiri.

Maka kulempar seluruh sepi
ke kawah malam,
berharap api
melalap segala kenangan.

Namun rindu
ternyata seperti burung phoenix
ia lahir kembali
dari abu yang bahkan telah dingin.

Oooh… Himalaya,
hamparkan saljumu
ke dada yang retak ini.

Biarkan air mata membatu
menjadi kristal sunyi
di sungai kehilangan.

Aku lelah menjadi pengembara
yang gendong namamu
seperti bulan memikul pasang laut.

Dan di puncak dingin itu
aku akhirnya mengerti

cinta bukan selalu pelukan,
kadang ia hanya
kemampuan bertahan hidup
di tengah badai
yang tak lagi memiliki rumah.

Kini waktu berjalan pincang
di lorong-lorong senja.

Aku duduk sendiri
di bangku angin,
memandang dunia menua
seperti lilin terakhir
di altar malam.

Namamu masih tinggal
bagai asap dupa
di ruang ingatan.

Sedang aku
hanyalah debu kecil
yang diterbangkan musim
menuju ujung rindu.

Dan elegi sewindu
tetap berkumandang
di antara langit dan dada
meski tubuh telah lama belajar
cara melepaskan
tanpa benar-benar pergi.