Sepenggal Kisah Perjalanan Bersama Wartawan Cilik BM

Banua Minang Group1688 Dilihat

Sepenggal Kisah Perjalanan Bersama Wartawan Cilik BM

 

Hari Jum’at tanggal 7 Bulan Juli tahun 2023 wartawan cilik Banuaminang.co.id yaitunya Si-galang, pingin ikut ke ibukota kabupaten Agam. Karena sudah lama tidak ke Lubukbasung sudah lebih dari 3 tahun tidak kesana ujarnya.

 

Sepanjang perjalanan dengan kendaraan roda dua yang sudah uzur ini. Si-galang aktif dengan bidikan kamera ponselnya yang juga tidak terlalu tinggi resolusi kameranya, maklum saja kamera handphone yang dibeli secara murah meriah.

 

Pertanyaannya yang pertama adalah “yah, jalannya masih seperti dahulu dan malahan tambah parah, kalau lewat oto (mobil/red) yang berjualan telur, apakah telurnya tidak pecah?”

Penampakan jalan (salahsatunya/red) diruas jalan Padang lua-lubukbasung

 

Sumber foto : si-galang 

Pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Mungkin juga tidak terpikirkan oleh warga masyarakat atau juga petinggi-petinggi dari kabupaten ataupun putra daerah dari bendera marawa yang salah satu warnanya adalah kepunyaan dan ciri khas urang Agam yaitunya warna merah. Yang konon khabarnya putra daerah Luhak berwarna merah ini juga banyak jadi orang terkemuka dinegeri +62 ini.

 

“Dikelok 44 Denai bamulo barangkek…” Adalah suatu lagu memori nan memperkenalkan keunikan dan kebanggaan urang Agam kepelosok Nusantara bahkan manca negara… Tapi…. Lihatlah setiap kelok pasti ada lobang menganga dan retak-retak yang mestinya tidak ada.

 

Untuk memastikan status jalan ini, penulis mencoba minta keterangan kepada kepala dinas PUTR Kabupaten Agam yaitunya Ofrizon melalui pesan singkat via WhatsApp dihari Selasa (11/7) jam 08:22 wib

 

Assalamualaikum pak kadis..

 

Izin batanyo… Ruas jalan Padang lua-mangopoh apakah ruas jalan dibawah naungan nasional atau provinsi?.

 

Dan apa perbedaan ruas jalan kabupaten, provinsi atau nasional secara gamblang terlihat oleh masyarakat awam, mungkin ada ciri-ciri atau Marka jalan yang dapat membedakannya.

 

Atas informasi dari bapak kadis, ambo ucapkan terimakasih.

ūüôŹūüôŹ

Wassalam

iing chaiang

 

Namun balasan dari sang bapak kadis yang dinantikan, karena penulis rasa beliaulah yang berkompeten untuk menjawabnya. Namun sepertinya bapak kadis sibuk sekali hingga tidak sempat membalas pesan singkat penulis. Walaupun penulis sudah tau bahwa jalan tersebut adalah kewenangan Propinsi Sumatera Barat, karena terlihat jelas Marka jalan tersebut berwarna putih. Sedangkan jalan nasional, Marka ditengah jalannya berwarna kuning.

 

Selanjutnya Si-galang meminta turun sebentar dilokasi pembangunan pembuatan jembatan. Pada plang tersebut disebutkan pekerjaan penggantian jembatan kurambik dengan nilai kontrak sebesar Rp. 1.803.127.074,03,- Dan berkata “waktu itu alan (sebutan kedirinya sendiri/red) bertemu pak wo (pak tua, atau panggilan hormat kepada dinas tenaga kerja provinsi sumbar/red) beliau menyatakan wajib pakai helm kerja dan sepatu (maksudnya Alat Pelindung Diri/red), kok orang yang bekerja ini tidak pakai helm, yah..(?)”¬†

Plang merek di jabatan kurambik
Sumber foto : si-galang

 

Ah… Aku terkesima akan daya ingat dari putra sulung ku ini. Padahal pertemuan singkat dengan Dinas Tenaga Kerja di sebuah warung di Palupuh, masih membekas dan jadi buah pemikiran oleh Si-galang.

 

Hari Senin (10/7) penulis kembali ke Lubukbasung, menjumpai salah satu Kepala Dinas di Agam, yaitunya kadis PUTR. Sebelum pergi ke pusat pemerintahan kabupaten Agam ini pun Si-galang berpesan untuk mengambil foto di kelok nomor 2 atau nomor 3 dari kelok 44.

 

“Jangan lupa ambil foto di dinding antara kelok 2 dan kelok 3, Yah. Karena ada yang aneh menurut Alan,” pesannya.

 

Akhirnya penulis pun mencari apa yang dimaksud oleh putra penulis. Wow… Ternyata yang dimaksud oleh wartawan cilik ini adalah tembok penahan tebing yang menurut dugaan penulis belum lama dikerjakan, sudah ditumbuhi pohon yang nantinya tentu akan merubuhkan tembok ini.

Satu batang kayu yang tumbuh subur di tembok penahan tanah dikelok 44

 

Akhirnya penulis pun mengabadikan lewat handphone yang juga sudah tua akan keberadaan pohon langka yang tumbuh subur pada semen tahanan tebing ini, apakah memang sengaja ditanam untuk pelindung dan untuk merubuhkan kembali tembok ini..(?).

 

Demikianlah catatan perjalanan bersama wartawan cilik Banuaminang.co.id semoga dengan adanya catatan kecil ini, dapat mengetuk hati para petinggi yang merasa peduli akan catatan remeh dari jurnalis yang masih jauh dari kesempurnaan ini.

 

Wassalam

 

Penulis : iing chaiang

Sumber inspirasi : wartawan cilik Banuaminang.co.id yaitunya si-galang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *