Pulang Kabako
Oleh: Zakiya Fitratul Ulya (2510742034) Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Pulang kabako merupakan salah satu tradisi pernikahan yang masih dikenal dan dijalankan oleh sebagian masyarakat Minangkabau. Tradisi ini masih bisa kita dapati di Kabupaten Agam, tepatnya di kampung penulis yaitu Guguak Randah IV Koto. Bagi masyarakat setempat, pulang kabako adalah pernikahan yang dilakukan dengan sepupu dari pihak bako atau keluarga ayah. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Adapun ketertarikan penulis mengangkat tradisi pulang kabako ini dikarenakan orang tua dan keluarga penulis lainnya menjalani tradisi pulang kabako tersebut. Selain itu, tradisi ini masih banyak ditemukan di lingkungan tempat tinggal penulis sehingga penulis tertarik untuk mengetahui alasan masyarakat tetap mempertahankannya hingga saat ini. Melalui tulisan ini, penulis ingin memahami lebih jauh mengenai makna, tujuan, serta dampak yang ditimbulkan oleh tradisi pulang kabako dalam kehidupan masyarakat Guguak Randah IV Koto.
Zaman memang sudah semakin canggih dan modern, semua orang bisa mencari dan mendapatkan pasangan dari suku manapun; namun tradisi pulang kabako belum punah dan masih tetap hidup hingga hari ini. Hal ini karena masyarakat menganggap bahwa pernikahan dengan kerabat dari pihak bako memiliki banyak manfaat bagi kemaslahatan kedua belah pihak keluarga.
Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap adat yang diwariskan oleh nenek moyang, tradisi ini juga dianggap mampu menjaga hubungan baik dan mempererat hubungan antarkeluarga yang telah terjalin sejak lama. Dengan terjadinya pernikahan antara dua orang yang masih memiliki hubungan kerabat, mereka tidak perlu lagi membangun hubungan dari awal karena sebelumnya sudah saling mengenal dan mengetahui silsilah kedua pengantin. Tradisi ini pun membuat komunikasi keluarga besar menjadi lebih mudah dan semakin hangat.
Silaturahim yang terjaga ketika seseorang memutuskan pulang kabako, bisa lebih intim dan pertemuannya bisa lebih berkelanjutan dibanding mereka yang tidak pulang kabako.
Contohnya saja: Seorang suami yang bernama Joharaymond diundang untuk menghadiri acara dari keluarga istrinya (Re: Zulfa) ataupun sebaliknya; maka mereka berdua bertemu dengan keluarga yang sama meski dalam acara yang berbeda.
Alasan lain yang membuat tradisi ini tetap dipertahankan adalah untuk menjaga harta keluarga. Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian masyarakat Guguak Randah bekerja sebagai bagarak (membuat perhiasan emas) dan memiliki aset keluarga yang cukup besar. Oleh karena itu, beberapa keluarga beranggapan bahwa pernikahan dengan kerabat dekat dapat membantu menjaga harta keluarga agar tetap berada dalam lingkungan keluarga besar. Meskipun tidak semua masyarakat memiliki alasan yang sama, faktor ini masih menjadi salah satu pertimbangan bagi sebagian keluarga yang menjalankan tradisi pulang kabako.
Di samping itu, tradisi ini juga menjadi salah satu cara untuk mempertahankan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya. Masyarakat Guguak Randah percaya bahwa adat merupakan bagian penting dari identitas mereka. Oleh sebab itu, berbagai tradisi yang masih dianggap baik tetap dipertahankan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Dengan tetap melaksanakan pulang kabako, masyarakat merasa ikut menjaga keberlangsungan adat yang telah ada sejak dahulu.
Namun demikian, tradisi pulang kabako tidak selalu memberikan dampak positif. Dalam beberapa kasus, tradisi ini dinilai kurang elok karena dua orang yang akan menjalani pernikahan merasa di interfensi oleh orang lain. Mengingat bahwa tidak semua orang memiliki keinginan yang sama, apalagi kasus pulang kabako sering kali diawali dengan perjodohan yang sering dipaksa. Sehingga hal tersebut menciptakan pertikaian dalam sebuah keluarga.
Adapun contoh dampak negatif dari pulang kabako ini adalah:
– Secara genetika
Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa anak akan mewarisi kedua salinan gen yang sama dari nenek moyang yang sama. Jika dua orang tidak berkerabat memiliki anak, kemungkinan besar pasangan gen yang merugikan tidak akan bertemu, karena masing-masing pihak membawa variasi gen yang berbeda. Jika dua orang berkerabat memiliki anak, mereka jauh lebih mungkin membawa salinan gen yang sama dari nenek moyang bersama. Akibatnya, anak memiliki resiko lebih tinggi mengekspresikan sifat genetik yang merugikan. Dalam hal lain keturunan dari individu yang secara genetik berbeda cenderung memiliki kesehatan, ketahanan dan kebugaran yang lebih baik. Bahasa sederhananya adalah, semakin jauh silsilah sebuah pernikahan maka semakin cerdas anak yang dihasilkan.
– Secara agama
Dalam Al-Quran surat Al-Hujarat ayat ke 13 yang berbunyi “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” Yang kemudian memiliki makna bahwa dari suku manapun kita tentu tidak menjadi permasalahan jika ingin melangsungkan pernikahan. Justru dengan mengenal lingkungan baru, kita bisa lebih open minded terhadap segala sesuatu.
– Secara hubungan kekeluargaan
Jika pernikahan tersebut tidak berjalan dengan baik, hubungan kekeluargaan yang sebelumnya erat juga dapat ikut terdampak. Karena permasalahan rumah tangga yang terjadi antara pasangan suami istri berpotensi memengaruhi hubungan antara keluarga besar. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan atau kesalahpahaman banyak pihak.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi pulang kabako masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat minang terkhusus di Guguak Randah IV Koto. Tradisi ini dianggap mampu mempererat hubungan kekeluargaan, menjaga silaturahmi, melestarikan adat, menjaga harta pusaka dan mempertahankan hubungan baik antaranggota keluarga. Meskipun memiliki beberapa dampak negatif, sebagian masyarakat tetap mempertahankannya karena dianggap memberikan manfaat yang lebih besar bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.





