“Orang yang Mengaku Menulis Takdir”
by: Bumiara
Ia berdiri di simpang kabut
lalu berkata,
“akulah penentu arah.”
Padahal jalan
telah ada
sebelum ia mengenal langkah.
Ia menyebut dirinya bebas,
sementara lehernya
masih terikat
pada tali tak kasatmata.
Saat jatuh
ia menyalahkan takdir.
Saat menang
ia menuhankan diri.
Betapa lucu manusia—
baru menggenggam setitik api
sudah mengaku matahari.
Padahal ia hanya tokoh
di lorong naskah gelap,
dengan dialog
yang mungkin
bahkan bukan miliknya.





