BUKITTINGGI, Banuaminang.co.id — Persoalan balapan liar, gangguan ketertiban di lingkungan warga serta rumah ibadah, hingga upaya mencegah longsor di kawasan Ngarai Sianok menjadi sejumlah aspirasi yang disampaikan warga Kelurahan Bukik Cangang Kayu Ramang Kecamatan Guguak Panjang Kota Bukittinggi kepada jajaran Polresta Bukittinggi.
Aspirasi tersebut disampaikan saat Kapolresta Bukittinggi Kombes Pol. Ruly Indra Wijayanto, S.I.K., M.Si., didampingi Kapolsek Kota Bukittinggi Kompol Mazwanda, S.H., Kasat Binmas AKP Gusnawar, S.AP., dan jajaran, turun langsung menemui masyarakat untuk membahas persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Pertemuan yang berlangsung di Warung Mbak Yu istri Suharnel Datuak Basa salah satu tokoh masyarakat di wilayah tersebut, itu menjadi ruang dialog antara kepolisian, Pemerintah Kelurahan, Tokoh Masyarakat, dan Warga untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Kapolresta Bukittinggi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Polisi Bersama Masyarakat yang disebutnya sebagai salah satu program Kapolri, Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto.
Menurut dia, turun langsung ke tengah masyarakat penting untuk membangun komunikasi, menyerap masukan, dan memperkuat sinergi antara kepolisian dengan warga.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan hubungan yang lebih humanis sekaligus membantu kepolisian memahami persoalan kamtibmas secara langsung di lapangan.
Balapan liar ganggu kenyamanan warga
Lurah Bukik Cangang Kayu Ramang, Westi Wismar, S.H., mengapresiasi kehadiran Kapolresta beserta jajaran. Ia menilai komunikasi langsung antara kepolisian dan masyarakat penting untuk menjaga situasi lingkungan tetap aman dan kondusif.
Dalam pertemuan itu, Westi menegaskan posisi Kelurahan Bukik Cangang Kayu Ramang sebagai salah satu kawasan strategis yang menjadi etalase Kota Bukittinggi. Wilayah tersebut memiliki beragam fasilitas publik, mulai dari perkantoran, sekolah, hotel, rumah sakit, masjid, gereja, hingga fasilitas pelayanan masyarakat lainnya.
Namun, menurut Westi kenyamanan warga masih terganggu oleh aksi balapan liar yang menimbulkan kebisingan dan mengusik ketenangan lingkungan.
Keluhan serupa juga mendapat perhatian dari ketua RT dan tokoh masyarakat yang hadir. Mereka berharap kepolisian meningkatkan perhatian terhadap gangguan ketertiban tersebut agar aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar dan beribadah, dapat berlangsung dengan aman.
Lingkungan gereja ikut terdampak
Aspirasi mengenai gangguan kamtibmas juga disampaikan Pastor Erick dari Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Claver Bukittinggi.
Ia mengungkapkan adanya kelompok pemuda yang kerap berkumpul di belakang gereja dengan sepeda motor. Menurut keterangannya, aktivitas tersebut disertai keberadaan kantong plastik hitam berisi minuman, sementara sampah dibuang ke pekarangan gereja.
Di sekitar lokasi itu terdapat pula gedung pastor, gedung suster, dan sekolah Katolik. Karena itu, kondisi lingkungan yang tertib dan nyaman dinilai penting bagi kegiatan keagamaan maupun pendidikan.
Pastor Erick juga menyoroti penggunaan knalpot bersuara keras serta dugaan aktivitas berkumpulnya kendaraan untuk menyaksikan aksi balap motor. Ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari kepolisian.
Ia menekankan pentingnya menjaga lingkungan rumah ibadah dan sekolah sebagai ruang bersama yang harus dihormati, terlebih di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.
Usulkan penanaman pohon di kawasan Ngarai Sianok
Selain persoalan keamanan, Westi Wismar turut menyampaikan usulan terkait pelestarian lingkungan di kawasan Ngarai Sianok yang berada di sekitar wilayah kelurahannya. Ia menjelaskan pemerintah kelurahan bersama ketua RW, ketua RT, masyarakat, dan sejumlah sekolah setempat telah menjalankan program penanaman buah yang melibatkan sekitar 600 murid. Dalam kegiatan tersebut, buah-buahan dikonsumsi para murid, sedangkan bijinya disebarkan di kawasan pinggiran ngarai.
Westi berharap program tersebut dapat dikembangkan menjadi gerakan penanaman pohon yang lebih terarah, terutama untuk mendukung pelestarian lingkungan dan mengurangi risiko longsor.
Usulan itu menjadi salah satu masukan yang perlu ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor, mengingat upaya mitigasi longsor di kawasan ngarai memerlukan kajian teknis serta pemilihan jenis tanaman dan lokasi penanaman yang tepat.
Kapolresta minta masyarakat ikut menjaga kamtibmas
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kapolresta Bukittinggi menerima aspirasi warga dan membahas persoalan yang disampaikan dalam pertemuan.
Ia menjelaskan bahwa Polresta Bukittinggi memiliki sekitar 400 personel untuk melayani masyarakat Kota Bukittinggi yang berjumlah sekitar 124.000 jiwa, ditambah masyarakat dari wilayah Agam Timur yang masuk dalam wilayah hukum Polresta Bukittinggi.
Dengan cakupan pelayanan tersebut, dukungan dan partisipasi masyarakat dinilai penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Kapolresta menegaskan bahwa Polri memiliki tanggung jawab memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat dapat melaporkan apabila menemukan dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota Polri melalui fungsi pengawasan internal, yakni Profesi dan Pengamanan (Propam).
Selain itu masyarakat dapat menghubungi layanan Call Center Polri 110 untuk melaporkan gangguan keamanan maupun membutuhkan bantuan kepolisian. Layanan tersebut tersedia secara gratis selama 24 jam.
Pertemuan di Bukik Cangang Kayu Ramang ini menegaskan bahwa persoalan kamtibmas tidak cukup ditangani melalui patroli dan penindakan semata. Dialog yang terbuka, tindak lanjut atas laporan warga serta koordinasi antara kepolisian, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan menjadi bagian penting untuk menjaga Bukittinggi tetap aman, nyaman, dan toleran.
( DM )



