IDUL FITRI DAN KEBANGKITAN GERAKAN MAHASISWA MUSLIM : KEMBALI KE SPIRIT PERJUANGAN YANG MURNI

Banuaminang.co.id Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Ia adalah momentum spiritual, sosial, dan politik. Dalam sejarah Islam, Idul Fitri merupakan saat umat merayakan penyucian diri, memperkuat ukhuwah, serta menyusun kembali barisan perjuangan untuk menghadapi tantangan zaman.

Bagi gerakan mahasiswa muslim, Idul Fitri bisa menjadi titik balik: dari kelelahan wacana menuju gerak nyata, dari perpecahan internal menuju penyatuan visi perjuangan, dari sekadar aktivitas rutinitas menuju gerakan yang terstruktur dan berideologi.

Makna Idul Fitri dalam Perspektif Pergerakan

Dalam bahasa Arab, ‘Id berarti kembali, dan Fitri berarti kesucian atau asal kejadian. Maka, Idul Fitri adalah momentum untuk kembali ke fitrah, ke asal kejadian manusia yang suci, jujur, adil, dan bertanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.

Makna ini tak sekadar bersifat individual. Ia juga bermakna kolektif: membersihkan umat dari kerak kerak kebodohan struktural, ketertindasan sosial, dan kebekuan pemikiran. Dalam konteks gerakan mahasiswa muslim, Idul Fitri adalah saat untuk merenungkan kembali untuk apa kita bergerak, apa yang hendak kita lawan, dan ke mana arah perjuangan ini.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa gerakan mahasiswa muslim telah menjadi bagian penting dalam dinamika perubahan sosial. Dari zaman Sarekat Islam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), PII, hingga organisasi seperti SEMMI, IMM, KAMMI, dan lainnya, mahasiswa muslim telah menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam membentuk bangsa.

Namun kini, gerakan mahasiswa muslim tengah menghadapi tantangan berat:

a. .Komersialisasi pendidikan dan pragmatisme gerakan:
Banyak organisasi mahasiswa terseret dalam politik transaksional, kehilangan arah perjuangan, dan sibuk mengejar proyek, bukan perubahan.

b. Kehilangan orientasi ideologis:
Tak sedikit kader yang bingung membedakan antara gerakan sosial dengan aktivisme politik partisan.

c. .Disorientasi kaderisasi:
Proses kaderisasi sering kali berhenti pada pengajaran teknis organisasi, bukan pembentukan karakter ideologis dan kepemimpinan.

Momentum Idul Fitri seharusnya menjadi ruang muhasabah bersama: apakah gerakan mahasiswa muslim masih menjadi lentera umat, ataukah telah menjadi bayang-bayang elite?

Tiga Spirit Idul Fitri untuk Kebangkitan Gerakan Mahasiswa Muslim

1. Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Diri dan Niat Perjuangan

Gerakan mahasiswa muslim harus dimulai dari niat yang benar. Spirit Idul Fitri mengajarkan bahwa kemenangan bukan soal sorak sorai, tapi soal kebeningan hati dan komitmen.

Banyak aktivis hari ini terjebak dalam aktivisme tanpa arah: sibuk mengadakan acara, tetapi lupa membentuk watak. Mereka berbicara tentang perubahan, tetapi gaya hidup dan pilihan hidupnya justru mencerminkan kompromi dengan sistem yang ingin diubah.

Idul Fitri mengingatkan: perjuangan yang tak dimulai dari tazkiyah, akan berakhir pada pengkhianatan.

2. Tajdidul Ukhuwah: Menyatukan Barisan Gerakan

Salah satu nilai kuat dalam Idul Fitri adalah saling memaafkan dan memperkuat ukhuwah. Gerakan mahasiswa muslim terlalu sering pecah karena egoisme organisasi, persaingan remeh, dan perebutan panggung. Akibatnya, umat kehilangan harapan pada gerakan ini.

Momentum Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk rekonsiliasi gerakan. Bukan rekonsiliasi kosong, tapi penyatuan arah perjuangan: melawan liberalisasi pendidikan, kapitalisasi sumber daya alam, serta merumuskan arah pembangunan berbasis nilai Islam.

Ukhuwah dalam gerakan bukan soal bersalaman di hari lebaran, tapi duduk satu meja, menyusun strategi, dan siap memikul beban sejarah bersama.

3. Tajdidul Iltizam: Meneguhkan Komitmen Ideologis

Idul Fitri mengajarkan tentang iltizam atau komitmen. Setelah sebulan berpuasa, komitmen itu diuji dalam 11 bulan berikutnya. Begitu juga dalam gerakan: bukan soal semangat saat pelantikan, tetapi daya tahan di tengah kesulitan.

Gerakan mahasiswa muslim harus kembali meneguhkan iltizam-nya terhadap nilai-nilai Islam yang membebaskan: keadilan sosial, tauhid sebagai asas perlawanan, dan kemerdekaan berpikir.

Tanpa iltizam yang kokoh, gerakan akan mudah disusupi kepentingan politik praktis. Aktivis akan menjadi agen elite, bukan pejuang rakyat.

Dari Warung ke Mimbar: Melahirkan Gerakan Kultural dan Struktural

Sejarah telah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa muslim tak hanya lahir di ruang kelas, tapi di warung kopi, masjid kampus, dan ruang diskusi kecil. Spirit Idul Fitri harus menginspirasi lahirnya kembali ruang-ruang kultural yang produktif, tempat pembentukan kesadaran dan perlawanan.

Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Ia harus naik kelas menjadi gerakan struktural mendorong lahirnya kebijakan publik berbasis nilai, membentuk jejaring kekuatan sosial-politik, dan menyusup ke ruang-ruang pengambilan keputusan.

Mahasiswa muslim tidak cukup hanya menjadi oposisi moral. Mereka harus siap menjadi pelaku perubahan struktural—tanpa kehilangan integritas.

Strategi Kebangkitan Pasca-Idul Fitri: Menuju Gerakan Mahasiswa Muslim yang Progresif dan Ideologis

Untuk membumikan spirit Idul Fitri dalam gerakan mahasiswa muslim, diperlukan langkah konkret:

1. Revitalisasi Kaderisasi Berbasis Ideologi

a. Kembali pada pemahaman Islam sebagai ideologi pembebasan.

b. Memperkuat kajian rutin, mentoring, dan pembinaan spiritual.

c. Menanamkan bahwa perjuangan bukan soal eksistensi pribadi, tetapi amanah sejarah.

2. Membangun Aliansi Mahasiswa Muslim Nasional

a. Mendorong forum lintas organisasi mahasiswa muslim.

b. Menyusun platform bersama untuk advokasi isu strategis: pendidikan, agraria, kebebasan akademik, dan demokrasi.

3. Menghidupkan Dakwah Kultural dan Intelektual

a. Mengisi ruang publik dengan narasi Islam yang mencerahkan.

b. Mengembangkan media alternatif, komunitas baca, dan diskusi terbuka.

c. Menggunakan media sosial sebagai alat dakwah dan perlawanan.

4. Menyiapkan Kader Menuju Politik Etis

a. Membangun generasi aktivis yang siap masuk ke politik tanpa kehilangan nilai.

b. Mendorong keterlibatan dalam pemilu, parlemen kampus, hingga ruang kebijakan publik dengan tetap menjaga integritas dan visi perjuangan.

Kembali ke Jalan Perjuangan

Idul Fitri bukan akhir, tapi awal. Ia bukan perayaan, tetapi pernyataan: bahwa setelah kita membersihkan diri, kita harus siap membersihkan masyarakat dari ketimpangan, kedzaliman, dan kebodohan.

Gerakan mahasiswa muslim harus menjadikan Idul Fitri sebagai titik tolak untuk bangkit. Bukan sekadar mengulang rutinitas, tetapi menyusun kembali barisan perjuangan, membangun kekuatan ideologis, dan bersiap menjadi pemimpin umat di masa depan.

Karena jika tidak sekarang, kapan lagi? Dan jika bukan kita, siapa lagi?

Oleh: Fajrul Huda

Korwil SEMMI Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *