Asal Usul Bakaua Adat di Sijunjung

Asal Usul Bakaua Adat di Sijunjung

 

Bakaua adat adalah salah satu tradisi budaya masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yaitu di kabupaten Sijunjung. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dijalankan hingga sekarang.

 

Bakaua adat merupakan salah satu ciri khas tradisi yang ada di Sijunjung, bakaua adat bukan tentang tradisi saja tetapi juga banyak mengandung nilai nilai, yaitu nilai sosial, nilai agama, nilai kebudayaan, kebersamaan, gotong royong, kerja sama dan menjaga silaturahmi antar sesama.

 

Bakaua adat ini dilaksanakan paling awal pada abad ke-17, pada masa itu terjadilah musibah besar di sijunjung, yaitu terjadinya kemarau panjang selama 3 tahun berturut-turut dan pada saat itu juga timbullah berbagai macam kejadian, yang pertama akibat kemarau panjang tersebut panen padi pada saat itu tidak ada yang berhasil karena kemarau tersebut mengakibatkan padi tersebut menjadi hangus, yang kedua ternak banyak yang sakit setiap hari ternak banyak yang mati, tidak hanya hewan ternak, manusia pun banyak yang meninggal pada saat itu hampir setiap hari ada kematian, niniak mamak pada saat itu tidak sependapat lagi.

 

Dan pada waktu itu Syeh Amirruddin yang bermakam di pudak atau disalah satu Nagari Sijunjung, beliau bermimpi kedatangan roh dari Syeh Abdurmusin yang bermakam di Solok, kedatangan beliau di mimpi itu mengatakan bahwasanya nagari ongku ini udah terkena musibah, apa penyebabnya terjadi musibah tersebut mungkin karena ada pantangan yang dilanggar oleh masyarakat atau cucu kemenakan sehingga datang musibah dari Allah SWT.

 

Setalah itu Syeh Amirruddin membawa sidang atau untuk berkumpul musyawarah niniak mamak pada masa itu, jadi beliau Syeh Amirruddin menceritakan tentang mimpinya tersebut pada suatu musyawarah niniak mamak.

 

pada saat itu niniak mamak bermusyawarah untuk langkah apa yang akan diambil setelah itu, jadi Syeh Amirruddin mangatakan kita semua yang harus mengadakan seperti berdo’a dan bertaubat bersama kepada Allah SWT dengan menyembelih kerbau, makan bersama dan melaksanakan do’a tahlil di suatu tempat yang di sepakati yaitu di Tabek Sijunjung, waktu pelaksanaannya tetap hari senen pada bulan Rabiul Awal pada masa itu tahun 145.

 

Sebelum melaksanakan acara tersebut masyarakat terlebih dahulu melaksanakan kegiatan pertama yang dilakukan masyarakat yaitu menyembelih kerbau bersama seluruh masyarakat di nagari, hadir mulai dari anak-anak sampai orang tua, seluruh masyarakat membawa makanan ke tempat acara tersebut, makanannya ya itu seperti lamang, lapek, membuat lamang itu dilaksanakan pada hari minggu dan bersamaan pada waktu penyembelihan kerbau.

 

Sebelum daging ini dibagi, ada juga tahlilnya yaitu makan nasi sedulang, setalah daging kerbau tersebut di bagi pada setiap rumah, daging yang sudah di masak tersebut dibawa pada saat bakaua tersebut, pada saat itulah niniak mamak dan seluruh masyarakat makan bersama, bertaklil, berdoa untuk panen padi tahun depan lancar dan meraih padi yang banyak, dan hewan berkembang biak, dan berdoa meminta pimpinan nagari niniak mamak untuk bisa selalu sependapat, nagari aman sentosa, setiap tahun bakaua adat rutin dilaksanakan di sijunjung dari abad ke-17 sampai saat ini.

 

Dan surau semasa Syeh Abdurmusin tersebut sholat dan tempat mengaji beliau,jadi surau tersebut juga merupakan tempat bermusyawarah dan mufakat pada saat itu,dan ditempat itulah disepakatinya oleh niniak mamak sebagai tempat untuk bakaua adat dan menyepakati hari senen sebagai hari pelaksanaan bakaua tersebut dan tidak boleh diubah.

 

Sijunjung umumnya memakai tarikat sataria yaitu kalau mendo’a orang meninggal harus sampai 100 hari,dan jika berdoa atau tahlilan harus memakai kumanyan, kumanyan berfungsi sebagai bentuk pembuka kata sebelum melaksanakan tahlil.

 

Penulis: Nayla Alnelia

Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand