Oleh: Ardinal Bandaro Putiah
Banuminang.co.id-Tidak ada yang lebih adil dalam hidup selain waktu.
Ia diberikan sama kepada semua manusia. Tidak mengenal status, kekayaan, jabatan, atau latar belakang. Setiap orang menerima jatah yang identik: dua puluh empat jam sehari. Namun dari nikmat yang sama itu, lahirlah kehidupan yang sangat berbeda.
Ada yang tumbuh,
ada yang stagnan.
Ada yang bermakna,
ada yang hampa.
Dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah dengan sesuatu yang luar biasa:
Demi masa. (Al-‘Asr: 1)
Sumpah Ilahi bukanlah ungkapan biasa. Ia menunjukkan betapa seriusnya sesuatu yang dijadikan objek sumpah. Waktu, dalam perspektif Al-Qur’an, bukan sekadar latar kehidupan, tetapi inti dari eksistensi manusia.
Dan sumpah itu diikuti oleh pernyataan yang mengguncang:
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian (Al-‘Asr: 2)
Kerugian bukan selalu tentang harta. Bukan selalu tentang kegagalan duniawi. Kerugian terbesar adalah menyia-nyiakan waktu tanpa menyadarinya.
Karena waktu memiliki sifat yang tak dimiliki nikmat lain.
Ia tidak bisa disimpan.
Tidak bisa diulang.
Tidak bisa ditukar.
Tidak bisa dinegosiasikan.
Apa yang berlalu, selesai.
Namun manusia hidup seolah waktu adalah sesuatu yang tak terbatas.
Menunda tanpa cemas.
Melalaikan tanpa rasa bersalah.
Membuang tanpa kesadaran.
Allah mengingatkan realitas eksistensial ini:
Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (Al-Mu’minun: 99)
Permintaan yang mustahil dipenuhi.Karena waktu adalah nikmat yang hanya bernilai ketika masih dimiliki. Ramadhan menghadirkan kesadaran waktu dengan cara yang sangat konkret.
Sahur memiliki batas.
Berbuka memiliki waktu.
Tarawih memiliki momen.
Lailatul Qadar memiliki peluang.
Ramadhan memaksa manusia hidup dalam ritme kesadaran temporal.
Setiap detik terasa bermakna.
Setiap waktu terasa bernilai.
Menariknya, di luar Ramadhan, hari terasa panjang tetapi cepat berlalu. Dalam Ramadhan, hari terasa berat tetapi bermakna. Mengapa? Karena makna waktu bukan ditentukan oleh durasi, tetapi oleh kesadaran.
Waktu tanpa kesadaran adalah kehilangan diam-diam.
Allah menyingkap ilusi manusia tentang waktu:
Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan. (Al-Hijr: 3)
Angan-angan adalah cara halus manusia menipu dirinya.
Merasa masih banyak waktu.
Merasa masih ada kesempatan.
Merasa perubahan bisa ditunda.
Padahal hidup bergerak tanpa kompromi. Setiap hari yang berlalu bukan sekadar angka kalender, tetapi bagian dari umur yang berkurang.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan sangat tajam:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan.”
Umur bukan sekadar dijalani,
tetapi dipertanggungjawabkan.
Masalahnya, manusia sering menganggap menyia-nyiakan waktu sebagai hal ringan.
Menunda kebaikan.
Menunda perubahan.
Menunda refleksi.
Menunda kesadaran.
Padahal penundaan adalah bentuk kehilangan paling sunyi. Karena waktu yang hilang tidak pernah terasa hilang saat itu juga. Ia baru terasa ketika telah habis.
Ramadhan adalah latihan menghargai waktu.
Menjadikan detik bernilai.
Menjadikan jeda bermakna.
Menjadikan hari terasa hidup.
Pada akhirnya, waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu. Ia adalah bahan baku kehidupan itu sendiri. Hidup manusia, sesungguhnya, adalah apa yang ia lakukan dengan waktunya.
Dan mungkin, kerugian terbesar bukanlah ketika manusia gagal meraih sesuatu, tetapi ketika ia gagal menyadari bahwa setiap hari yang berlalu adalah bagian dari dirinya yang tak akan pernah kembali.
Wallahu’alam




