Solusi Terapi Reumathoid Arthritis: Tim PKM-RE Unand Olah Ekstrak Sambiloto Jadi Smart Nano Microneedle
Efisiensi sistem penghantaran obat dan kepatuhan pasien masih menjadi tantangan utama dalam terapi pengobatan Rheumatoid Arthritis. Menjawab tantangan tersebut, Tim riset Smart Nano PKM-RE Universitas Andalas berhasil mentranslasikan potensi tanaman lokal Indonesia, sambiloto, menjadi sediaan NLC-DMN. Pemilihan sambiloto didasari oleh aktivitas antiinflamasinya yang kuat namun belum tereksplorasi secara optimal.
“Pengembangan sediaan Smart Nano Dissolving Microneedle ini lahir dari keprihatinan kami terhadap pasien Rheumatoid Arthritis yang sering kali merasa kurang nyaman dengan terapi konvensional. Melalui integrasi teknologi nanolipid dan matriks jarum mikro, kami ingin membuktikan bahwa potensi bahan alam lokal seperti sambiloto mampu dihantarkan secara efisien, presisi, dan tanpa rasa sakit,” ujar Safira, Ketua Tim Smart Nano.
Guna mengatasi masalah kelarutan serta meningkatkan kenyamanan aplikasi, ekstrak dikembangkan dalam bentuk NLC-DMN. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) berfungsi sebagai sistem pembawa nanolipid untuk meningkatkan kelarutan dan permeabilitas senyawa aktif, sedangkan Dissolving Microneedle (DMN) bertindak sebagai matriks jarum mikroskopis yang melarut secara in situ untuk menghantarkan obat menembus stratum corneum secara transdermal tanpa rasa sakit.
Karakterisasi menunjukkan formula optimum NLC mampu mereduksi ukuran partikel hingga 214,8 nm (memenuhi kriteria <500 nm) sehingga mengoptimalkan penetrasi menuju jaringan target. Formulasi ini berhasil dienkapsulasi pada dissolving microneedle (Formula 3) dengan dimensi tinggi jarum sekitar 600 µm. Evaluasi in vivo melalui air pouch method mengonfirmasi potensi antiinflamasi sediaan ini memiliki tingkat inhibisi sebesar 30%.
Penelitian ini membuka jalan baru dalam pemanfaatan sistem drug delivery berbasis mikroneedle untuk memaksimalkan efikasi bahan alam Indonesia.
Bersama tim Smart Nano, solusi sehat tanpa rasa sakit!
