Serambi Cahaya by Bumiara

Puisi dan Sastra110 Dilihat

Mengapa mengejar langit, jika ia telah singgah dalam sebutir sunyi

Di antara ribuan cahaya, langkahku tak pernah berhentipada yang paling terang

Aku memilih bening teduh di sepasang mata yang menyentuh luka tanpa sepatah tanya

Engkau hadir tanpa mahkota

Namun kehadiranmu membuat badai lupa bagaimana caranya murka

Sejak itu, angin belajar berbicara pelan, dedaunan menemukan arti sujud, dan embun melafalkan doa di pangkuan mentari pagi.

Kupandang engkau bagai seorang pengembara yang akhirnya mengenali rumahnya, meski baru pertama kali berdiri di ambang pintu

Barangkali setiap pencarian tidak berakhir ketika kaki sampai di rumah, melainkan saat hati tak lagi merasa asing

Jika engkau jelmaan cahaya, biarkan aku menjadi jendela yang tak memiliki sinar

Cukuplah aku terbuka agar terangmu menyelinap ke segala arah dan menyinari dunia

Dan bila waktu memisahkan langkah kita, aku tak akan mengejar bayangmu

Sebab sekali jiwa disentuh cahaya sejati, ia akan menetap bahkan ketika malam kehabisan gelap