Seberapa Pentingkah Yayasan Fort de Kock Mendongkrak Perekonomian Masyarakat Jam Gadang?

Bukittinggi306 Dilihat

Bukittinggi, BanuaMinang.co.id Ketua yayasan kampus Fort de Kock Bukittinggi H. Windasnofil, SKM., MM pada saat konferensi pers di kampus FdK (Jum’at, 7 Agustus 2026) menjawab beberapa pertanyaan dari BanuaMinang.co.id dengan judul pertanyaan Seberapa pentingkah Fort de Kock Mendongkrak Perekonomian Masyarakat Jam Gadang?

 

Windasnofil memaparkan bahwasanya sebanyak hampir 3000 orang mahasiswa yang kuliah di FdK dengan 14 prodi (program studi) yang mencakup jenjang Diploma (D3), Sarjana (S1), Profesi, hingga Magister (S2).

 

“90% mahasiswa tersebut berasal dari luar Kota Bukittinggi dan mereka umumnya tinggal dan menetap di Bukittinggi (kos ataupun ngontrak rumah di Bukittinggi/red),” terangnya.

 

Terkait lokasi kampus yang berada di kota Bukittinggi, pihak kampus Fort de Kock juga memberikan Beasiswa gratis terhadap 10 orang dari warga Bukittinggi.

 

Besaran beasiswa setiap tahun yang diberikan kepada masiswa yang berprestasi sebesar Rp2Milyar per tahun, lanjut Windasnofil.

 

Terkait Adanya Perselisihan dengan Pihak Pemko, Apakah Ada Dampaknya Terhadap UFdK?

Terkait hal itu ada plus minusnya, ungkap ketua yayasan Fort de Kock.

Saat ini UFdK memiliki 7 program studi unggulan yang telah meraih akreditasi predikat unggul, terutama pada bidang kesehatan yang menjadi akar sejarah institusi ini sejak berstatus STIKes, dan termasuk program studi S2, lanjutnya.

 

Pada umumnya jumlah penerimaan mahasiswa di kampus FdK adalah stabil setiap tahunnya, tambah Windasnofil.

 

“Dahulu ada rencana dari Bupati Agam untuk meminta memindahkan kampus Fort de Kock ke wilayah Agam, hal ini menjadi heboh antara warga diseputaran lingkungan kampus, mereka meminta agar kampus tetap berdiri di Bukittinggi, dikarenakan mereka memiliki rumah kos untuk mahasiswa,” bebernya.

 

Setelah usai konferensi pers, BanuaMinang berdialog dengan beberapa mahasiswa di kampus ini.

 

Beberapa mahasiswa membenarkan bahwasanya mereka berasal dari luar Bukittinggi, ada yang dari Agam, Pasaman, Payakumbuh dan bahkan dari luar Sumbar.

 

Mereka pada umumnya memilih kos dan ngontak rumah di Bukittinggi.

 

(iing chaiang)