Pameran Bertajuk Visualisasi Sejarah Karya Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah Unand Dipamerkan kepada Publik

Padang28 Dilihat

Padang, BanuaMinang.co.id Perpustakaan Universitas Andalas (Unand) mendadak berubah menjadi ruang lintas waktu pada Jumat (26/6/2026). Bertempat di Lantai 2 The Gade Creative Lounge (TGCL), puluhan karya mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah Unand dipamerkan kepada publik dalam sebuah pameran bertajuk visualisasi sejarah.

 

Pameran ini merupakan buah kolaborasi kreatif dari mahasiswa tiga mata kuliah sekaligus, yakni Digital Humaniora, Sejarah Modernitas dan Gaya Hidup di Indonesia, serta Sejarah Kebencanaan dan Mitigasi. Di bawah bimbingan dua dosen pengampu, Prof. Yenny Narny, M.A., Ph.D., dan Ahmad Muhajir, M.Hum., para mahasiswa ditantang untuk mendobrak tradisi lawas, membawa ilmu sejarah keluar dari tumpukan teks buku ke dalam medium film dokumenter, fotografi, buku bergambar, hingga pemetaan geospasial.

 

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Eng. Ir. Febrin Anas Ismail, M.T., Dosen Teknik Sipil yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Andalas. Sosok yang dikenal memiliki ketertarikan mendalam terhadap kebencanaan sejarah ini memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, sejarah saat ini tidak lagi hanya dinikmati lewat teks tulisan, melainkan juga melalui media audiovisual.

 

 

Deretan film dokumenter bertema kebencanaan. Karya-karya bergerak ini tidak sekadar diposisikan sebagai pemenuhan tugas akademik, melainkan dirancang sebagai media pembelajaran sekaligus ruang suara bagi masyarakat yang menjadi fokus dokumentasi. Film-film ini mempertegas satu dalil penting: bahwa ingatan kolektif masyarakat adalah sumber sejarah valid yang harus dirawat agar tidak menguap pada generasi berikutnya.

 

Salah satu film yang ditayangkan Adalah Antara Sungai dan Harapan karya kelompok 2A. Selain itu, terdapat tujuh film lain yang membedah bencana hidrometeorologi di Kota Padang sepanjang November hingga Desember 2025 dan kebencanaan di nagari Paninjauan. Dari kelas Sejarah Kebencanaan, diputar pula film dokumenter bertajuk Nagari Tangguh di Jantung Batipuh.

 

Selain sajian sinematik, pengunjung juga dimanjakan oleh lebih dari 20 karya fotografi yang merekam jejak visualisasi gaya hidup masyarakat. Beberapa di antaranya adalah foto Penghakiman Giran Sani karya Budi Utama yang diabadikan saat pertunjukan teater Komunitas Seni Gaung Ganto di Panggung Nan Jombang. Ada pula karya Firmansyah bertajuk Pasar yang Mulai Ditinggalkan, serta foto karya Nazwa Annisa berjudul Jamu di Era Modern.

 

Tak kalah menyentuh, pameran ini menghadirkan sebuah buku bergambar berjudul Merawat Ingatan, Menyulam Harapan: Kisah Lansia saat Galodo di Gurun Laweh Nanggalo. Karya ini bersanding dengan peta kebencanaan kontemporer, sebuah terobosan baru dari mahasiswa Ilmu Sejarah yang memuat informasi presisi mengenai rumah-rumah terdampak di Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh Malalo, luas area bencana, hingga pembaruan kondisi lapangan secara real-time.

 

Melalui pameran ini, mahasiswa Ilmu Sejarah Unand seolah mengirimkan pesan kolektif: bahwa belajar sejarah bukanlah tentang menghafal angka tahun yang telah mati, melainkan tentang bagaimana manusia merawat ingatan untuk bertahan hidup hari ini dan menyulam harapan untuk masa depan.

 

(Dhevin A)