“Orang yang Mengaku Menulis Takdir”

Puisi dan Sastra144 Dilihat

“Orang yang Mengaku Menulis Takdir”

by: Bumiara

 

Ia berdiri di simpang kabut

lalu berkata,

“akulah penentu arah.”

 

Padahal jalan

telah ada

sebelum ia mengenal langkah.

 

Ia menyebut dirinya bebas,

sementara lehernya

masih terikat

pada tali tak kasatmata.

 

Saat jatuh

ia menyalahkan takdir.

 

Saat menang

ia menuhankan diri.

 

Betapa lucu manusia—

baru menggenggam setitik api

sudah mengaku matahari.

 

Padahal ia hanya tokoh

di lorong naskah gelap,

dengan dialog

yang mungkin

bahkan bukan miliknya.