Merekam Memori Kebencanaan Tanjung Sawah Melalui Pendekatan Geohistoris

Merekam Memori Kebencanaan Tanjung Sawah Melalui Pendekatan Geohistoris

 

Selama tiga hari, mulai dari Jumat hingga Minggu (17–19 April 2026), rombongan kelas Sejarah Kebencanaan dan Mitigasi turun langsung ke lapangan. Di bawah bimbingan Prof. Yenny Narny, S.S., M.A., Ph.D. dan Ahmad Muhajir, S.Pd., M.Hum., sebanyak 12 mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah bersama tiga sukarelawan menggelar penelitian sekaligus pengabdian kepada masyarakat di Jorong Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Batipuh Selatan.

 

Kehadiran tim di tengah masyarakat bertujuan untuk menggali dan merekam memori kolektif warga. Para peneliti muda ini berusaha merekonstruksi kembali kepingan peristiwa saat banjir bandang atau galodo menerjang kawasan tersebut pada tahun 2025, serta menelusuri jejak bencana serupa yang pernah terjadi pada masa lampau. Tidak hanya mencatat kisah tentang bencana, tim juga mendokumentasikan kearifan masyarakat dalam merespons alam, mulai dari metode mitigasi tradisional warisan leluhur hingga pendekatan modern.

 

Di Tanjung Sawah, masyarakat memiliki kedekatan tersendiri dengan fenomena alam ini yang tecermin dari bahasa mereka. Warga setempat menyebut banjir bandang dengan istilah ampuah. Menariknya, kata ini juga digunakan untuk menamai sungai yang mengalir deras dari Bukit Patah Gigi hingga bermuara ke Danau Singkarak. Keragaman penamaan ini menjadi bukti kuat betapa lekatnya kehidupan warga Tanjung Sawah dan masyarakat Minangkabau pada umumnya dengan ancaman galodo.

 

Lebih jauh, penelitian ini membedah peristiwa kebencanaan melalui perspektif sejarah dengan menggunakan pendekatan geohistoris. Tim peneliti tidak sekadar mencatat urutan waktu kejadian, tetapi melihat bentang alam sebagai aktor utama yang membentuk cara masyarakat beradaptasi. Melalui lensa ini, alam diposisikan sebagai rahim yang melahirkan sekaligus membentuk karakter dan budaya tangguh masyarakat dalam menghadapi siklus bencana.

 

Penulis: Dhevin Akbar Fajri