Mengapa Pikiran Anak-Anak di Zaman Sekarang Lebih Mudah Memahami Tutorial dari Video Pendek di HP daripada Membaca Buku?

Mengapa Pikiran Anak-Anak di Zaman Sekarang Lebih Mudah Memahami Tutorial dari Video Pendek di HP daripada Membaca Buku?

 

Oleh: Naysila Arifin Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

 

Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak yang tampak frustrasi saat harus membaca buku panduan merakit mainan, namun tiba-tiba menjadi sangat cekatan ketika menonton tutorial berdurasi 30 detik di TikTok atau Reels? Kejadian ini bukan lagi anomali, melainkan pemandangan sehari-hari di ruang keluarga kita. Keluhan bahwa “anak-anak dizaman sekarang malas membaca atau hanya tahu main HP” mungkin perlu kita tinjau ulang dari sudut pandang yang lebih objektif.

 

Secara evolusioner (proses pertumbuhan, perubahan atau perkembangan), otak manusia dirancang untuk merespons segala sesuatu dan gerakan jauh lebih cepat daripada simbol-simbol huruf yang statis. Saat membaca buku, otak harus melakukan proses yang rumit seperti mengubah huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi visualisasi imajinatif di dalam pikiran. Proses ini memakan energi yang besar dan menuntut fokus yang statis.

 

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa melihat orang mempraktikkan sesuatu di video terasa jauh lebih gampang daripada membaca buku manual yang tebal? Jawabannya ada pada bagaimana otak kita “bekerja”.

 

Secara alami, otak manusia lebih menyukai jalur yang efisien. Ketika kita membaca buku, otak kita harus bekerja ekstra keras. Ia harus mengubah simbol huruf menjadi suara di kepala, merangkai kata menjadi kalimat, lalu ini bagian yang paling berat, otak harus memutar proyektor di dalam pikiran untuk membayangkan apa yang sedang dijelaskan oleh teks tersebut. Jika deskripsinya rumit, otak harus berulang kali mengolah informasi itu agar kita benar-benar paham. Ini adalah proses yang melelahkan bagi banyak anak muda saat ini.

 

Nah, video pendek hadir menawarkan jalan pintas yang sangat memanjakan otak. Dalam sebuah video berdurasi 30 detik, otak kita tidak perlu lagi membayangkan apa pun. Semua sudah tersaji di depan mata ada orang yang berbicara, gerakan tangan yang nyata, nada suara yang ekspresif, hingga tambahan musik latar yang mengarahkan emosi kita. Kita bayangkan otak menganggap video sebagai “makanan cepat saji” yang lezat dan bergizi instan. Karena bisa dilihat, diamati dan suara sudah diberikan secara utuh, otak tidak perlu lagi melakukan kerja keras untuk menerjemahkannya lagi.

 

Akibatnya, anak-anak di generasi ini merasa belajar melalui video adalah hal yang menyenangkan dan cepat, sementara membaca buku dianggap sebagai kegiatan yang berat dan membosankan. Bukannya tidak cerdas, hanya saja otak nya telah beradaptasi untuk mencari cara belajar yang paling hemat energi di tengah derasnya arus informasi. Mereka bukan menolak ilmu pengetahuan, mereka hanya menolak cara penyajian informasi yang dirasa tidak lagi relevan dengan kecepatan dunia mereka saat ini.

 

Video pendek dirancang dengan algoritma yang memanjakan otak dengan instan. Setiap instruksi yang berhasil diikuti dari video memberikan kepuasan cepat. Inilah yang membuat anak-anak sekarang menjadi sangat mahir dalam micro learning (strategi pembelajaran modern yang singkat) mereka bisa belajar cara memasak, menari, atau memperbaiki sesuatu dalam hitungan menit.

 

Namun, di sini pula tantangannya muncul. Karena otak terbiasa dengan kecepatan dan kemudahan visual ini, ia menjadi kurang terlatih untuk melakukan deep reading atau membaca mendalam. Membaca buku menuntut kita untuk bertahan dalam keheningan, merenungkan metafora, dan menjaga rentang perhatian yang panjang. Ketika kebiasaan ini perlahan hilang, anak-anak mungkin menjadi cemas atau bosan saat dihadapkan pada teks panjang yang tidak memberikan stimulasi instan.

 

Bagaimana Cara Menghidupkan Kembali Budaya Literasi Ini?

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia literatur, seperti suka membaca buku kaba dan tambo Minangkabau yang kaya akan tutur lisan. Saya melihat kemiripan antara cara nenek moyang kita belajar melalui cerita dengan cara anak sekarang belajar melalui video. Keduanya adalah bentuk komunikasi yang menghidupkan indra.

 

Namun, kita tidak boleh berhenti di sana. Kita tidak bisa memusuhi HP, tetapi kita juga tidak boleh membiarkan anak-anak kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis melalui teks. Solusinya adalah dengan membangun penggabungan atau percampuran berbagai jenis cara kita berkomunikasi dan memproses informasi di era digital saat ini. Jika dulu kita belajar literasi hanya dari buku cetak atau teks tertulis, sekarang kita menggunakan berbagai alat sekaligus untuk memahami sesuatu.

 

Ini adalah titik temu antara cara belajar lama (seperti membaca buku atau koran) dengan cara baru yang interaktif (seperti mencari informasi di Google atau berdiskusi di forum daring). Kita menggunakan kedua cara ini secara bersamaan untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap. Kita juga bisa memposisikan video pendek sebagai pintu masuk atau pemantik rasa ingin tahu. Biarkan mereka menonton tutorial video untuk memahami konsep praktisnya, tetapi dorong mereka untuk membaca buku guna memahami konteks, sejarah, dan nilai filosofis di balik apa yang mereka tonton.

 

Kesimpulannya, anak-anak generasi sekarang bukanlah generasi yang malas, tapi generasi yang hidup di dalam arus informasi yang sangat cepat. Tugas kita sebagai orang tua, pendidik, atau kakak bukan memaksa mereka kembali ke masa lalu di mana informasi hanya datang dari lembaran kertas, melainkan membimbing mereka untuk menjadi penavigasi yang bijak.

 

Pada akhirnya, literasi bukanlah soal mediumnya, apakah itu kertas atau layar. Literasi adalah tentang seberapa dalam kita mampu memaknai informasi yang kita konsumsi. Mari kita bantu mereka agar tidak hanya sekadar tahu melalui video, tapi juga mampu memahami melalui refleksi yang mendalam dari buku.