Tanah Datar, BanuaMinang.co.id —Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan ekspedisi lokasi bersejarah di Situs Ateh Lago, Nagari Sungai Patai, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengenalan, pendokumentasian, serta pelestarian nilai sejarah dan budaya lokal yang ada di nagari. Selasa, 6 Januari 2026.
Ekspedisi ini diikuti oleh mahasiswa KKN laki-laki dan didampingi oleh Bapak Toni, selaku salah satu perangkat nagari yang memahami sejarah serta kondisi situs. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa sekaligus menggali informasi langsung dari sumber lokal mengenai peninggalan sejarah di Nagari Sungai Patai.
Secara historis, Ateh Lago merupakan perkampungan lama yang telah ada sejak masa penjajahan Belanda sekitar abad ke-19. Kawasan ini dulunya menjadi tempat berlindung masyarakat Sungai Patai yang melarikan diri dari kejaran penjajah Belanda. Seiring perkembangan waktu, perkampungan tersebut ditinggalkan dan masyarakat berpindah ke wilayah yang lebih rendah di lereng bukit, mendekati jalan raya. Keberadaan batu lesung di sisi timur luar pagar situs menjadi salah satu penanda bahwa kawasan ini pernah menjadi lokasi permukiman.
Dari aspek arkeologis, situs Ateh Lago dikenal sebagai medan nan bapaneh, yaitu tempat musyawarah adat masyarakat pada masa lalu sekaligus bukti bekas perkampungan lama. Situs ini berada di atas bukit dengan lingkungan sekitar berupa lahan kebun dan perladangan masyarakat. Denah situs berbentuk persegi panjang dengan sisa-sisa sandaran kursi batu yang masih dapat dijumpai.
Sebanyak 16 sandaran kursi batu masih tersisa, terutama di bagian timur, utara, dan barat situs. Salah satu temuan yang paling menarik adalah batu sandar berbentuk segitiga yang dihiasi pahatan dua figur manusia dan seekor kuda dengan susunan vertikal manusia–kuda–manusia. Batu tersebut memiliki tinggi sekitar 1,15 meter dan lebar 80 sentimeter, serta terletak di sisi timur bagian utara situs. Meskipun pahatan terlihat masih kasar, penggambaran figur tampak dinamis dan sarat makna, meskipun hingga kini makna pastinya belum dapat dipastikan.
Salah satu mahasiswa KKN yang mengikuti ekspedisi, Muthi Fais Arwindra, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami sejarah lokal secara langsung.
“Melalui ekspedisi ini, kami tidak hanya mengetahui sejarah Nagari Sungai Patai dari cerita, tetapi juga melihat langsung bukti peninggalannya. Kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab kami untuk ikut menjaga dan melestarikan situs bersejarah yang ada,” ungkapnya.
Berdasarkan keterangan informan setempat, batu sandar berbentuk segitiga tersebut diyakini merupakan tempat duduk pemimpin rapat dalam kegiatan musyawarah adat pada masa lalu.
Melalui kegiatan ekspedisi ini, mahasiswa KKN berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan situs sejarah, serta mendorong generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh Nagari Sungai Patai. (Firmansyah)






