Keladi dan Gemuruh
by Bumiara
nikmati tangisan langit
kata manusia berteduh
di bawah payung buatan
hutan jadi korban
demi gagang dan rangkanya
senandung jemari kecil
hujan menyapa sopan
kota menutup telinga
percaya ramalan layar
daripada bau tanah basah
sebelum gemuruh landa
pengeras suara berpidato
mengatur arah angin
menamai badai
seolah langit karyawannya
tarian riang sang katak
jadi lelucon ruang rapat
padahal keputusan mereka
lebih lumpur dari rawa
keladi tumpuan sementara
alam berkata: “kalian pun begitu”
membangun kursi
dari kata “selamanya”
saat petir melukis langit
barulah rapat darurat
digelar tergesa
mencari siapa yang disalahkan
selain wajah sendiri di cermin






