IBADAH PUASA RAMADHAN UPAYA MENJALIN INTENSITAS TANPA BATAS HAMBA DAN TUHANNYA

Kultum, Padang160 Dilihat

 

Oleh : Fajrul Huda

Padang,Banuaminang.co.Id-24 Feb 2026 ‎Ibadah Puasa, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan upaya menjalin kesadaran dan keimanan hamba dengan Tuhannya. Puasa, juga sebagai praktik ibadah yang menyatukan dimensi biologis, psikologis, sosial, dan teologis dalam satu sistem pengalaman spiritual.

‎Secara tegas dinyatakan oleh Allah Swt melalui hadits Qudsi:
‎Diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

‎كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

‎“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 1904)

‎Puasa bukan sekadar ketaatan terhadap perintahNya, tetapi teknologi spiritual untuk menggeser manusia dari kesadaran semu yang dicekcoki dan dicampuri oleh godaan dunia menuju kesadaran teosentris yang menempatkan keimanan kepada Allah Swt diatas segalanya. Manusia dilatih untuk tidak tunduk pada kehendak biologisnya, melainkan pada nilai ilahiah yang murni dan suci.

‎Puasa juga merupakan kritik terhadap indikator fisik, ibadah puasa membongkar mitos bahwa kebahagiaan identik dengan pemenuhan kebutuhan fisik tanpa batas. Dengan menahan diri secara sadar, manusia menyadari bahwa keberadaan dirinya tidak sepenuhnya ditentukan oleh dorongan biologis, melainkan oleh relasi spiritual dengan Allah Swt.

‎Puasa menjadi pembuktian bahwa hubungan manusia dengan Allah bersifat langsung, tanpa penghunung atau perpanjang tanganan. Ibadah puasa adalah dialog sunyi antara hamba dan Rabb-nya.

‎Puasa Ramadhan menciptakan kesadaran kolektif tentang keadilan distributif, kepedulian dan tanggung jawab sosial.

‎Koneksitas dengan Allah tidak berhenti pada hubungan spiritual sebagai praktek penyembahan, tetapi menuntut pengamalan dalam lingkungan masyarakat berupa keadilan dan kepedulian. Relasi dengan Tuhan yang autentik harus terwujud dalam bentuk pembelaan terhadap yang lemah.

‎Puasa juga merupakan upaya untuk merubah dan membiasakan diri dan mengupayakan kebaikan secara internal. aktifitas puasa yang dilakukan menggugat ego, membongkar kesombongan, dan meruntuhkan ilusi kekuatan absolut manusia. Dalam bahasa eksistensial, puasa mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk terbatas yang bergantung pada Yang Maha Raja yaitu Allah Swt.

‎Namun progresivitas puasa terletak pada transformasinya yang berkelanjutan. Ibadah puasa tidak boleh berhenti pada ritus tahunan, tetapi menjadi kebiasaan etis sepanjang hidup: disiplin, empati, kesadaran ilahiah, dan keberanian moral.

‎Puasa adalah praktik spiritual yang melampaui simbolisme ritual. Ibadah puasa adalah metode ilmiah-spiritual untuk membangun koneksitas dengan Allah melalui pengendalian diri, kritik terhadap materialisme (kecintaan terhadap dunia), penguatan kesadaran eksistensial (sebagai hamba Allah), dan solidaritas sosial. Dalam dunia yang didominasi oleh konsumsi dan distraksi, puasa menghadirkan jeda revolusioner, berupa sebuah perlawanan sunyi yang menegaskan bahwa manusia bukan budak nafsu, tetapi hamba Tuhan.

‎Jika dihayati secara kritis dan progresif, puasa bukan sekadar kewajiban ibadah, melainkan gerakan transformasi diri dan masyarakat menuju tatanan yang lebih adil, sadar, dan ilahiah.


‎Fattaqullaha Mastatha’tum
‎Billahi FienSabililhaq