Di Persimpangan yang Tak Lagi Bernama Pulang
by Bumiara
Setelah bertahun-tahun
kita menanam musim
di halaman yang sama,
akhirnya kita belajar
bahwa tidak semua pohon
ditakdirkan tumbuh
hingga menaungi usia.
Bukan kemiskinan
yang mengeringkan sungai kita.
Bukan amarah
yang membakar dinding-dinding rumah.
Bukan pula tangan ketiga
yang mencuri cahaya
dari jendela cinta.
Melainkan dua jiwa
yang perlahan kehilangan
bahasa untuk saling mengerti.
Betapa banyak luka
kita kuburkan
di bawah sajadah kesabaran,
agar rumah ini
tetap tampak utuh
di mata dunia.
Namun tembok
yang berdiri dari kepura-puraan
hanya akan menjadi
makam bagi kejujuran.
Maka jika hari ini
kita memilih berpisah,
jangan sebut
siapa yang kalah
atau siapa yang menang.
Sebut saja,
dua pengembara
yang akhirnya menyadari
bahwa jalan yang mereka pijak
telah lama bercabang,
dan memaksa tetap berjalan bersama
hanyalah cara paling sunyi
untuk saling melukai.






