Bagaimanakah Huntara di Balingka?

Menengok Lebih Dekat Huntara di Balingka

Agam252 Dilihat

IV Koto, BanuaMinang.co.id Huntara adalah tempat tinggal darurat layak huni yang dibangun pemerintah bagi korban bencana, berfungsi sebagai tempat transisi aman sebelum rumah tetap (huntap) siap.

 

Warga korban bencana alam 2025 untuk Nagari Balingka dan Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto. Dilokasi kan Huntara nya di Bancah, Jorong Pahambatan Nagari Balingka.

 

Sebanyak 33 unit Huntara di Bancah ini, dimana 15 warga dari Sungai Landia, sedangkan warga Nagari Balingka sebanyak 18 Kepala keluarga.

 

Suara “nit nit” nyaring menyambut kedatangan BanuaMinang co.id (22/3/26), ini bukan berasal burung, melainkan dari suara token listrik habis dari kWh meter, menandakan kuota kWh di bawah batas aman (biasanya 5-20 kWh).

 

Setidaknya Huntara ini sudah dihuni oleh 12 KK, 4 KK dari Balingka dan selebihnya dari Sungai Landia.

 

“Saya sudah lebih dari 10 hari menghuni Huntara ini, sedangkan yang lain ada yang sudah seminggu,” ungkap Efniwati penghuni unit nomor 5B.

 

Berdasarkan pengakuan dari penghuni Huntara ini, ada sebagian kamar mandi yang masih belum dicor (masih tanah), dan tingginya posisi pipa saluran buangan, hingga air dari kamar mandi masuk ke ruangan.

 

Begitupun dengan kWh meter yang berdaya listrik 900 VA, diduga kWh ini tidak bersubsidi.

“Nan dirumah yang dulu (yang terkena bencana/red), dibali 20Ribu dapek 34, nan kini dibali 20Ribu dapeknyo 11 noh, padohal kami ko kan panarimo bantuan Huntara, Ba’a kok listik kami ko, indak dapek subsidi?” Tanya beberapa penghuni Huntara ini. Mereka berharap agar pemerintah memberikan subsidi listrik untuk Huntara ini.

 

Berdasarkan pantauan, pengamatan dan gambaran BanuaMinang.co.id dilapangan, memang kWh meter ini memiliki MCB 4 A tentunya berdaya 900 VA. Dan posisi pipa buangan dari kamar mandi yang terlalu tinggi, hingga air (jika mandi/red) akan merembes keruangan. Dan ada kamar mandi yang masih belum dicor.

 

Di bagian ujung dari Huntara terdapat 3 tong air yang belum terisi air, dimana masing-masing tong air ini bertuliskan 3300 L, sedangkan pipa instalasi air sudah masuk dan mengalir ke kamar mandi setiap unit bangunan.

 

Sebelum memasuki areal Huntara ini, mata kita akan diperlihatkan dengan dua buah tong air yang tergeletak dipinggir jalan, seakan tiada guna dan fungsinya. Apakah memang sengaja diletakkan disitu, entah bagaimana.

 

Begitupun dengan overstek (kelebihan atap rumah) yang terlalu pendek, diduga berkisar 20-30 cm dari dinding luar bangunan. Dan parit atau saluran buangan di sekitar rumah yang tidak sejajar dengan ujung atap, hingga pantulan air hujan masuk ke teras rumah, serta posisi jalan (gang antar rumah) yang sama tinggi dengan lantai rumah.

 

Hujan sore ini di Balingka (22/3) membuktikan bahwasanya air hujan membasahi dinding Huntara ini (dikarenakan overstek yang terlalu pendek).

 

Salah seorang tokoh masyarakat Balingka, Angku Datuak Maruhun Basa, ketua Kerapatan Adat Ampek Suku Pahambatan -Subarang. Menyatakan, alangkah lebih baiknya apabila pihak pelaksana ataupun pemerintah menambah atap tersebut, dan diantara gang antar blok (bahagian belakang) atapnya disatukan dan pipa penampung air berada di tengah, hingga gang tersebut bisa untuk tempat menjemur kain.

 

“Yang lebih penting yaitunya terkait overstek, wajib ditambah. Karena apabila hujan lebat yang disertai angin, tentunya ruangan akan mengalami basah. Diharapkan pekerjaan ini sesuai dengan aturan yang sudah digambarkan oleh pemerintah, jangan menambah penderitaan masyarakat penerima bantuan.” Tutup Angku Datuak.

 

Refli Suhemi, Walinagari Sungai Landia, membenarkan bahwasanya ada sebanyak 15 KK dari Sungai Landia yang sudah dan akan menempati Huntara ini.

 

Sementara Camat IV Koto, Subchan, dikonfirmasi melalui pesan dari media WhatsApp.

 

Permintaan konfirmasi dari BanuaMinang.co.id

1. Apakah ada rencana untuk perbaikan Huntara yang berada di Bancah jorong Pahambatan Nagari Balingka, dimana WC nya sebahagian masih belum di cor (masih tanah), dan air tergenang di WC (karena pipa buangan terlalu tinggi) dan overstek (kelebihan atap) yang terlalu pendek, hingga ditakutkan apabila hujan disertai angin menjadikan hujan masuk ke Huntara.

 

2. Menurut rencana sampai kapankah warga tersebut menghuni Huntara tersebut? Mohon jelaskan.

 

3. Kenapa hanya 12 unit yang baru di huni oleh warga? Mohon jelaskan.

 

Jawaban dari Camat IV Koto

Soal kekurangan dari Huntara telah disampaikan ke BNPB dan dinas terkait di Kabupaten Agam, kondisi tersebut masih dalam tanggungjawab pelaksana. Sesudah lebaran ini akan diperbaiki. Demikian pak..

 

(iing chaiang)

 

News Feed