Kuburan Nama by Bumiara

Ia hidup
di bawah bayang nisan.

Setiap bicara,
tulang leluhur
diangkat jadi tameng.

Raja.
Pahlawan.
Ulama.
Nasab mulia.

Semua dipanggul
seperti utang
yang tak pernah ia bayar.

Ia bangga
pada darah yang mengalir,
seolah darah itu
pernah bekerja
untuknya.

Ia warisi nama,
tetapi lupa
mewarisi kehormatan.

Malam datang
tanpa mengenal silsilah.

Gelar tanggal.
Nasab membusuk.
Nisan kehilangan suara.

Di hadapan tanah,
raja dan keturunannya
sama-sama menjadi debu.

Tinggal ia—
tanpa leluhur
untuk dipinjam namanya.

Ternyata,
yang paling miskin
bukan orang tanpa harta,

melainkan manusia
yang sepanjang hidup
hanya punya
nama orang lain
untuk membuktikan
bahwa dirinya
layak dihormati.