Rumah yang sunyi by Bumiara

Rumah yang sunyi
by Bumiara

Di ujung jalan,
sekawanan pemuda
membawa matahari
di atas bahu.

Mereka mengetuk
sebuah rumah
yang konon dibangun
dari bata-bata suara

Tetapi rumah itu
sedang sibuk
menyusun sunyi
agar tampak
seperti kebijaksanaan

Tingkap perlahan terbuka
Angin sepoi gerakan tirai
Namun nurani tak pernah
muncul di ambang pintu

Di sorak pekarangan
keadilan berdiri
dengan bibir pecah,
sementara tongkat
terus berlatih
menjadi bahasa.

Sepertinya negeri ini
kata-kata lebih mudah
dipatahkan daripada kayu.

Dan luka
lebih sering diadili
daripada tangan
yang melahirkannya.

Aku melihat
kursi-kursi
tumbuh akar.

Mungkin terlalu lama
memeluk kekuasaan,
hingga lupa
bahwa pohon pun
tetap bergoyang
bila angin sejarah
datang bawa nama
yang pernah diabaikan

Burung-burung
enggan hinggap
di atap gedung itu.

Mereka takut
kicauannya
dituduh provokasi
heningnya antikritik

Maka langit
menulis sendiri
berita sore itu

“Ada rumah milik rakyat,
namun lebih pandai
memeluk gema
daripada suara.”

Masa itu
penyair paling sabar,
tak pernah lupa
mencatat

siapa pegang tongkat
siapa memegang nurani

Dan siapa
yang memilih
bersembunyi
di balik dinding
ketika kebenaran
mengetuk pintunya.