Masyarakat Nagari Sungai Lansek Gelar Tolak Bala dan Tahlilan Sepanjang Jalan Lintas Sumatera

Sijunjung31 Dilihat

Sijunjung, BanuaMinang.co.id Masyarakat Nagari Sungai Lansek menggelar kegiatan tolak bala yang diwujudkan melalui pembacaan tahlil dan doa bersama pada Minggu (31/5/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan secara serentak di sepanjang ruas Jalan Lintas Sumatera yang membentang dari Jorong Cilacap hingga Jorong Sungai Ampang, dimulai pada pukul 16.00 WIB hingga selesai.

 

Sejak sore hari, warga dari berbagai kalangan tampak berkumpul di titik-titik yang telah ditentukan di sepanjang jalan lintas. Mereka bersama-sama membaca tahlil, dzikir, ayat-ayat suci Al-Qur’an, serta memanjatkan doa demi keselamatan kampung dan seluruh masyarakat yang melintas maupun bermukim di wilayah tersebut.

 

Tradisi tolak bala yang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Minangkabau ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah, bencana, serta segala bentuk marabahaya yang dapat mengancam kehidupan masyarakat.

 

Salah seorang tokoh adat Sungai Lansek, Tujuh Koto, Syafri Antoni Datuak Kayo, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat. “Tahlil tolak bala diadakan untuk menolak sekalian bala, panyakit, wabah, galodo, musibah, dan bencana nan indak kunjung reda di nagori kito,” ujarnya.

 

Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Kehadiran tokoh masyarakat, alim ulama, pemuda, serta unsur pemerintahan nagari menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Pelaksanaan tahlilan dan tolak bala yang membentang dari Jorong Cilacap hingga Jorong Sungai Ampang berlangsung dengan khidmat dan tertib hingga selesai, serta mendapat sambutan positif dari masyarakat yang hadir.

 

Masyarakat berharap kegiatan tersebut dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya dan religius masyarakat Nagari Sungai Lansek. Selain menjaga nilai-nilai tradisi, kegiatan itu juga menjadi pengingat pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan kedekatan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.

 

(M. Alfarozy)