Ramadhan: Saat Jiwa Diajak Pulang

Ramadhan 1

Kultum210 Dilihat

Oleh: Ardinal Bandaro Putiah

Ramadhan bukan sekadar peristiwa waktu, tetapi peristiwa kesadaran. Ia bukan hanya pergantian bulan, melainkan panggilan Ilahi yang berulang setiap tahun, seakan Allah memahami betapa mudahnya manusia terseret jauh dari dirinya sendiri. Dalam Al-Qur’an, perintah puasa disampaikan dengan tujuan yang sangat mendasar:

“_Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa._” (Al-Baqarah: 183)

Ayat ini tidak berbicara tentang lapar. Tidak tentang dahaga. Tidak pula tentang penderitaan fisik. Orientasi ayat ini langsung menukik ke inti eksistensi manusia yaitu taqwa. Seolah Allah hendak menegaskan bahwa puasa bukanlah tujuan, melainkan jalan. Bukan substansi akhir, melainkan instrumen transformasi.

Manusia sering mengira dirinya hidup sepenuhnya karena kekuatan jasmaninya. Karena makanannya, kenyamanannya, rutinitasnya. Namun Ramadhan, melalui puasa, meruntuhkan kepercayaan diri yang semu itu. Ketika rasa lapar datang, manusia dihadapkan pada kenyataan paling jujur tentang dirinya, yakni rapuh.

Dan justru dalam keretakan rasa kuat itulah lahir kesadaran yang lebih dalam. Sebab taqwa tidak tumbuh dari rasa berkuasa, tetapi dari rasa bergantung. Allah mengingatkan manusia tentang dimensi batin ini dalam firman-Nya:

“_Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku_.” (Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah dalam makna Qur’ani bukan sekadar ritual lahiriah, tetapi orientasi total hidup. Puasa menjadi latihan konkret bagaimana manusia menata kembali orientasi itu. Menahan bukan hanya makan dan minum, tetapi dorongan-dorongan ego yang sering tak disadari mengendalikan hidup.

Di sinilah puasa menjadi unik. Ia adalah ibadah paling sunyi, paling personal, paling eksistensial. Tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa selain Allah dan dirinya sendiri. Maka puasa sesungguhnya adalah latihan kejujuran terdalam.

Allah bahkan menyinggung dimensi kesadaran ini secara halus:

“_Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan._” (Al-Baqarah: 77)

Puasa menghadapkan manusia pada dirinya sendiri. Ketika tidak ada pengawasan sosial, yang tersisa hanyalah integritas batin. Apakah ia menahan diri karena manusia, atau karena Allah?

Lebih jauh, Ramadhan juga dikaitkan langsung dengan Al-Qur’an:

“_Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda._” (Al-Baqarah: 185)

Relasi ini bukan kebetulan. Puasa menenangkan gejolak jasmani, sementara Al-Qur’an menerangi ruang batin. Puasa membersihkan, Al-Qur’an mengarahkan. Puasa meredam kebisingan nafsu, Al-Qur’an menghidupkan suara kebenaran dalam hati.

Namun Al-Qur’an sendiri memberi peringatan keras kepada manusia yang membaca tanpa menghadirkan kesadaran:

“_Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?_” (Muhammad: 24)

Ramadhan, dengan demikian, bukan sekadar momentum tilawah, tetapi momentum perjumpaan batin. Membaca Al-Qur’an bukan sebagai teks, tetapi sebagai cermin. Sebagai dialog. Sebagai cahaya yang menyingkap lapisan-lapisan diri yang lama tertutup rutinitas dan kelalaian.

Pada akhirnya, puasa adalah perjalanan pulang. Pulang dari dominasi nafsu menuju kendali diri. Pulang dari kebisingan dunia menuju keheningan hati. Pulang dari rasa berkuasa menuju kesadaran kehambaan.

Allah menggambarkan puncak perjalanan itu:

“_Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai_.” (Al-Fajr: 27–28)

Barangkali, Ramadhan adalah latihan menuju panggilan agung itu. Latihan untuk menjadi jiwa yang tenang. Jiwa yang tidak lagi diperbudak dorongan sesaat. Jiwa yang menemukan pusat ketenangannya dalam Allah.

Dan mungkin pertanyaan paling jujur di awal Ramadhan bukanlah,
“Apa yang akan kita lakukan?”
melainkan,
“Sudahkah jiwa kita benar-benar kembali?”

Karena Ramadhan, sesungguhnya, bukan tentang menahan lapar.
Tetapi tentang membangunkan kesadaran.

Wallahu’alam