Terpenjara oleh Cuaca: Buruknya Akses Jalan di Kecamatan Sangir Batanghari

Terpenjara oleh Cuaca: Buruknya Akses Jalan di Kecamatan Sangir Batanghari

Oleh: Zulhapzi

 

“Apabila hujan mulai mengguyur, alamat akan terkurung saja, tak dapat ke mana-mana.” Kalimat ini bukan sekadar keluhan sesaat, melainkan kenyataan yang berulang dan sudah terlalu akrab bagi masyarakat di tiga nagari di Kecamatan Sangir Batanghari, yaitu Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan, Nagari Lubuk Ulang Aling Tengah, dan Nagari Lubuk Ulang Aling Induk. Jalan yang seharusnya menjadi penghubung antarwilayah justru berubah menjadi penghalang utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Kondisi jalan di daerah ini masih jauh dari kata layak. Hampir seluruh ruas jalan belum beraspal, dengan kontur wilayah yang didominasi pendakian dan penurunan terjal. Saat cuaca cerah, jalanan ini masih bisa dilalui meski penuh debu. Namun, cerita berubah drastis ketika hujan turun. Tanah menjadi lumpur, jalan licin, dan kendaraan kerap kehilangan kendali. Dalam situasi seperti ini, keselamatan menjadi taruhannya.

 

Masyarakat selalu melihat cuaca bila hendak bepergian. Apabila langit sudah mulai kelabu, pertanda akan turun hujan, warga di sini sering kali mengurungkan niatnya. Pergi ke luar rumah bukan lagi perkara jarak atau waktu, melainkan soal berani atau tidak menghadapi risiko di jalan. Hujan yang bagi sebagian orang hanya membawa kesejukan, di sini justru menjadi penanda keterbatasan.

 

Kendaraan yang biasa dilihat di jalan umum tak begitu diandalkan di sini. Motor dan mobil standar sering kali tidak mampu menaklukkan medan yang berat. Setidaknya, warga di sini dituntut untuk memiliki kendaraan offroad. Namun kenyataannya, tidak semua orang memiliki kemampuan atau pilihan tersebut. Maka tak jarang terjadi peristiwa yang sudah dianggap biasa: bila kendaraan roda empat tak mampu mendaki sementara hari sudah larut malam, mobil itu akan ditinggalkan saja. Pengemudi memilih berjalan kaki atau menunggu hingga esok hari, berharap kondisi jalan membaik. Jalan rusak seolah memiliki kuasa penuh atas manusia dan aktivitasnya.

 

Dari aspek sosial, kondisi ini menciptakan rasa terisolasi yang perlahan tapi pasti. Hubungan antarwilayah menjadi terbatas. Kunjungan keluarga, menghadiri acara keagamaan, atau sekadar bersilaturahmi sering kali harus dibatalkan karena hujan turun beberapa jam saja. Masyarakat tidak bebas bergerak, seakan hidup dalam ruang yang dibatasi oleh kondisi alam dan minimnya infrastruktur.

 

Dampak yang mengkhawatirkan juga terjadi pada sektor pendidikan. Anak-anak yang sekolahnya jauh harus berhadapan dengan medan berat setiap hari. Jalan licin, tanjakan curam, dan kubangan lumpur menjadi rintangan sebelum sampai ke ruang kelas. Lebih dari itu, buruknya akses jalan juga menjadi ancaman serius dalam kondisi darurat. Ketika ada warga yang sakit atau mengalami kecelakaan, perjalanan menuju fasilitas kesehatan menjadi penuh risiko. Waktu tempuh tidak bisa dipastikan, kendaraan bisa terjebak di tengah jalan, dan pertolongan sering kali terlambat. Dalam situasi seperti ini, jalan rusak bukan lagi sekadar persoalan pembangunan, melainkan persoalan keselamatan dan nyawa manusia.

 

Ironisnya, kondisi ini telah berlangsung lama dan seakan dianggap sebagai hal yang wajar. Masyarakat terbiasa beradaptasi, meski harus mengorbankan kenyamanan dan keamanan. Padahal, keterbiasaan bukan berarti pembenaran. Jalan yang rusak tetaplah masalah serius yang membutuhkan perhatian nyata.

 

Perbaikan jalan oleh pemerintah sangat diperlukan di sini. Jalan bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan fondasi bagi kehidupan sosial yang sehat dan pendidikan yang layak. Dengan jalan yang baik, masyarakat tidak lagi hidup dalam kecemasan setiap kali hujan turun. Anak-anak bisa bersekolah tanpa rasa takut, kegiatan sosial dapat berjalan normal, dan layanan darurat dapat menjangkau warga tepat waktu.

 

Selama akses jalan di Kecamatan Sangir Batanghari masih bergantung pada cuaca, selama itu pula masyarakat akan terus hidup dalam keterbatasan. Jalan yang layak bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Sebab, di balik jalan yang rusak, tersimpan cerita tentang keterkurungan, ketidakpastian, dan harapan akan perubahan yang belum kunjung datang.