Takwa Bukan Label: Menyelami Identitas Muttaqīn dalam Al-Qur’an

Edisi Ramadhan 4

Kaltim127 Dilihat

Oleh : Ardinal Bandaro Putiah

Al-Qur’an menggambarkan orang yang bertakwa bukan sebagai figur simbolik yang dibungkus citra kesalehan, tetapi sebagai manusia dengan struktur batin dan moral yang nyata. Takwa dalam Al-Qur’an adalah kualitas hidup, bukan label religius. Ia terlihat dalam cara berpikir, merasakan, dan bertindak.

Jika kita kembali kepada QS. Al-Baqarah ayat 2–5, Al-Qur’an langsung memberikan potret awal tentang muttaqīn. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran iman terhadap yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki. Tetapi menariknya, Al-Qur’an tidak berhenti pada ritual. Ia bergerak ke dimensi yang lebih dalam: keyakinan yang kokoh terhadap wahyu, kepastian akan kehidupan akhirat, dan orientasi hidup yang jelas. Takwa dimulai dari kesadaran batin, lalu mengalir ke tindakan.

Orang bertakwa dalam Al-Qur’an adalah manusia yang hidup dengan kesadaran Ilahi. Ia tidak menjalani hidup secara impulsif atau sekadar mengikuti arus. Ada kewaspadaan moral dalam dirinya. Ia sadar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi etis. Takwa adalah keadaan di mana seseorang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa kulakukan?”, tetapi “Apa yang seharusnya kulakukan?”

Al-Qur’an juga menggambarkan orang bertakwa sebagai mereka yang mampu mengendalikan diri. Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134, muttaqīn disebut sebagai orang-orang yang menafkahkan harta di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan manusia. Ini potret yang sangat manusiawi sekaligus revolusioner. Takwa bukan sekadar ketundukan spiritual, tetapi kematangan emosional. Ia tampak ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk marah, tetapi memilih menahan; memiliki alasan untuk membalas, tetapi memilih memaafkan.

Lebih jauh lagi, takwa dalam Al-Qur’an selalu berkaitan dengan kejujuran dan integritas. Orang bertakwa bukan manusia tanpa dosa, tetapi manusia yang memiliki kompas nurani yang hidup. Ketika tergelincir, ia sadar, kembali, dan memperbaiki diri. Takwa bukan kesempurnaan, melainkan kesadaran yang terus terjaga.

Dimensi sosial takwa juga sangat kuat. Orang bertakwa tidak mungkin hidup dalam kesalehan privat sambil mengabaikan keadilan, amanah, dan empati. Takwa menuntut kepekaan terhadap sesama. Ia menjelma dalam kejujuran transaksi, tanggung jawab moral, dan keberpihakan terhadap kebenaran. Dalam logika Qur’ani, spiritualitas yang tidak melahirkan akhlak sosial bukanlah takwa, melainkan ilusi religius.

Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan muttaqīn sebagai manusia yang kaku atau terasing dari kehidupan. Mereka justru digambarkan sebagai manusia yang paling hidup secara moral — paling sadar, paling terkendali, paling jernih orientasinya. Takwa bukan pelarian dari dunia, tetapi cara berada di dunia dengan kesadaran Ilahi.

Pada akhirnya, orang bertakwa menurut Al-Qur’an adalah manusia yang batinnya hidup, nuraninya peka, emosinya terkendali, dan tindakannya berakar pada nilai Ilahi. Takwa bukan apa yang tampak di permukaan, tetapi apa yang menggerakkan seluruh kehidupan.

Wallahu’alam

News Feed