Ridha: Damai dengan Takdir Tanpa Kehilangan Ikhtiar

Edisi Ramadhan 12

Kultum154 Dilihat

 

Oleh: Ardinal Bandaro Putiah

Banuaminang.co.id-Tidak semua luka manusia berasal dari penderitaan. Sebagian berasal dari penolakan.

Penolakan terhadap kenyataan.
Penolakan terhadap hasil.
Penolakan terhadap takdir yang tak sesuai harapan.

Manusia sering tidak hancur oleh peristiwa, tetapi oleh ketidakmampuannya berdamai dengan peristiwa.

Di sinilah ridha menemukan maknanya.

Dalam Al-Qur’an, ridha bukanlah sikap pasif terhadap hidup, melainkan kedewasaan batin dalam memandang ketetapan Allah:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan.

Ia adalah koreksi cara manusia memahami realitas.

Karena manusia hidup dalam perspektif sempit: sekarang, dekat, kasat mata.
Sementara Allah menetapkan dalam keluasan: masa depan, dampak jangka panjang, hikmah yang tersembunyi.

Ridha adalah kesadaran akan keterbatasan sudut pandang manusia. Ia bukan menyerah pada keadaan, tetapi menerima bahwa tidak semua hal harus dimengerti untuk dapat diterima.

Ridha sering disalahpahami sebagai bentuk kelemahan. Seolah-olah ridha berarti berhenti berusaha. Seolah-olah ridha berarti menanggalkan keinginan. Seolah-olah ridha berarti menerima keadaan tanpa daya juang.

Padahal ridha bukan lawan dari ikhtiar.

Ridha adalah lawan dari pemberontakan batin.
Ridha tidak menghentikan usaha.
Ridha menghentikan permusuhan terhadap takdir.

Ini perbedaan yang sangat halus, tetapi menentukan ketenteraman jiwa.

Manusia tetap diperintahkan berusaha.

Tetapi setelah hasil datang, ridha menjaga hati agar tidak terkoyak oleh kalimat yang paling melelahkan dalam kehidupan:

“Seandainya…”

Seandainya begini.
Seandainya begitu.
Seandainya tidak terjadi.

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sering menjadi sumber penderitaan berkepanjangan.

Ridha memutus lingkaran itu.

Ia mengajarkan penerimaan tanpa kehilangan harapan. Ketundukan tanpa kehilangan kehormatan. Kedamaian tanpa kehilangan daya juang.

Allah menggambarkan kualitas jiwa yang luar biasa:

Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya.(Al-Bayyinah: 8)

Perhatikan hubungan timbal balik ini.

Ridha bukan hanya tentang manusia menerima takdir Allah. Tetapi tentang terciptanya harmoni batin antara kehendak Ilahi dan penerimaan manusia.

Ridha adalah damai eksistensial.

Ia membuat manusia berhenti melihat takdir sebagai musuh. Berhenti melihat kenyataan sebagai hukuman. Berhenti melihat peristiwa pahit sebagai bentuk ketidakadilan semata.

Ridha tidak selalu berarti memahami hikmah.

Sering kali hikmah baru terlihat setelah waktu panjang berlalu. Ridha hanya membutuhkan satu hal: kepercayaan.

Bahwa Allah tidak mungkin keliru.
Bahwa Allah tidak mungkin zalim.
Bahwa Allah tidak mungkin menetapkan tanpa makna.

Tanpa ridha, manusia hidup dalam konflik permanen dengan realitas. Dengan ridha, manusia hidup dalam stabilitas batin meski keadaan tak selalu ideal.

Ridha bukan menghapus kesedihan.

Ridha hanya memastikan kesedihan tidak berubah menjadi keputusasaan.

Ridha bukan meniadakan rasa sakit.

Ridha hanya memastikan rasa sakit tidak berubah menjadi kebencian terhadap hidup.

Pada akhirnya, ridha adalah puncak ketenangan jiwa.

Bukan karena hidup selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi karena hati tidak lagi bergantung pada keharusan bahwa segala sesuatu harus sesuai keinginan.

Dan mungkin, kedamaian terbesar bukanlah ketika takdir selalu manis, tetapi ketika jiwa mampu tenang bahkan saat takdir terasa pahit.

Ridha memberikan ruang itu.

Wallahu’alam