Nafsu dan Pergulatan yang Sunyi

Edisi Ramadhan 8

Kultum104 Dilihat

Oleh: Ardinal Bandaro Putiah

Banuaninang.co.id–Tidak semua pertempuran terjadi di medan terbuka. Sebagian yang paling menentukan justru berlangsung dalam ruang sunyi yang tak terlihat, yaitu di dalam diri manusia. Ramadhan menghadirkan pertempuran jenis ini senyap, tetapi fundamental.

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Ia adalah konfrontasi langsung dengan sesuatu yang paling dekat sekaligus paling sulit dikendalikan, yaitu nafsu.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyingkap karakter dasar jiwa manusia:

Sesungguhnya nafs itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf: 53)

Ayat ini bukan tuduhan, melainkan pengungkapan realitas. Nafsu bukan sekadar dorongan biologis, tetapi kecenderungan batin yang terus-menerus menarik manusia menuju pemuasan diri. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar; sering kali ia bekerja secara halus, rasional, bahkan tampak wajar.

Nafsu tidak selalu berteriak.
Kadang ia berbisik.

Ia muncul sebagai keinginan kecil yang terasa sepele. Sebagai dorongan yang tampak masuk akal. Sebagai pembenaran yang terdengar logis. Dan justru karena kehalusannya itulah manusia sering tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan.

Allah menggambarkan fenomena ini dengan sangat tajam:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?, (Al-Jatsiyah: 23)

Kalimat ini mengguncang karena ia menyentuh wilayah yang sangat dalam. Menjadikan nafsu sebagai tuhan bukan berarti menyembah secara formal, tetapi menjadikannya otoritas tertinggi dalam hidup. Apa yang diinginkan nafsu menjadi keputusan. Apa yang ditolak nafsu menjadi larangan.

Tanpa sadar, manusia hidup dalam ketaatan yang keliru.

Di sinilah puasa menemukan makna strategisnya.

Puasa menciptakan kondisi unik, dimana dorongan tetap ada, tetapi pemuasan ditangguhkan. Nafsu lapar, tetapi tidak dilayani. Keinginan muncul, tetapi tidak otomatis dipenuhi. Untuk pertama kalinya, manusia benar-benar menyaksikan dinamika internal dirinya sendiri.

Betapa gelisahnya diri ketika dorongan tidak segera terpenuhi.
Betapa kuatnya desakan keinginan.
Betapa lihainya pikiran mencari pembenaran.

Puasa membuka tirai yang selama ini tertutup kenyamanan.

Karena selama dorongan selalu dipenuhi, manusia jarang mengenali dirinya. Ia mengira dirinya bebas, padahal sekadar mengikuti impuls. Ia merasa berdaulat, padahal digerakkan kebiasaan.

Ramadhan meruntuhkan ilusi itu.

Allah memberikan peringatan yang sangat relevan dengan pengalaman puasa:

Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya. (An-Nazi’at: 40–41)

Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut meniadakan nafsu, tetapi menahan. Karena nafsu adalah bagian dari struktur manusia. Ia bukan musuh yang harus dimusnahkan, tetapi energi yang harus dikendalikan.

Masalahnya bukan pada adanya keinginan, tetapi pada siapa yang memimpin.

Puasa melatih manusia mengambil kembali kendali itu.

Setiap hari, berulang, disiplin. Setiap kali dorongan datang, ada keputusan sadar yang harus diteguhkan. Dan dari keputusan-keputusan kecil yang sunyi itulah lahir sesuatu yang jauh lebih besar: kekuatan jiwa.

Sebab pengendalian diri bukanlah peristiwa besar yang heroik.
Ia adalah kemenangan kecil yang konsisten.

Menariknya, Al-Qur’an juga menyingkap dimensi psikologis yang sangat halus:

Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams: 7–8)

Dalam diri manusia selalu ada tarik-menarik. Dorongan naik dan dorongan turun. Cahaya dan kecenderungan gelap. Nafsu tidak pernah berhenti bekerja, tetapi kesadaran juga tidak pernah benar-benar padam.

Puasa memperkuat suara kesadaran itu.

Ia melatih manusia hidup tidak secara impulsif, tetapi reflektif. Tidak sekadar mengikuti dorongan, tetapi mengamati dan mengendalikan. Tidak diperbudak keinginan, tetapi memimpin dirinya sendiri.

Dan mungkin di situlah makna terdalam jihad Ramadhan.

Bukan sekadar menahan lapar,
tetapi membangun kedaulatan jiwa.

Karena manusia yang kalah oleh dirinya sendiri akan mudah kalah oleh apa pun di luar dirinya. Tetapi manusia yang mampu menata dorongan internalnya telah membangun fondasi kekuatan yang paling kokoh.

Pergulatan ini sunyi.
Tak terlihat.
Namun sangat menentukan.

Dan Ramadhan adalah madrasahnya.

Wallahu’alam