Muhasabah: Keberanian Melihat Diri Sendiri

Edisi Ramadhan 11

Kultum99 Dilihat

Oleh: Ardinal Bandaro Putiah

Banuaminang.co.id- Ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada kegagalan.

Melihat diri sendiri dengan jujur.

Manusia mampu menghadapi kerasnya hidup. Mampu menghadapi tekanan dunia. Bahkan mampu menghadapi konflik dengan orang lain.Namun sering kali, ia gentar menghadapi satu hal:

cermin batinnya sendiri.

Dalam Al-Qur’an, muhasabah bukan sekadar anjuran spiritual, tetapi perintah kesadaran yang sangat tajam:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. (Al-Hasyr: 18)

Memperhatikan.

Bukan sekadar mengingat.
Bukan sekadar menyesal.
Tetapi menilai dengan kesadaran penuh.

Muhasabah adalah keberanian eksistensial.

Ia menuntut manusia berhenti sejenak dari kebiasaan paling umum: sibuk menilai dunia sambil lalai menilai diri sendiri. Karena manusia memiliki kecenderungan yang halus namun kuat.

Ia mudah melihat kesalahan orang lain,
tetapi sulit mengenali cacat dirinya sendiri.
Ia tajam mengkritik luar, tetapi tumpul mengkritik dalam.

Muhasabah membalik arah pandang itu. Dari luar ke dalam. Dan ini bukan proses ringan.

Karena melihat diri sendiri secara jujur sering kali menyakitkan. Mengakui kelemahan ego bukan perkara mudah. Menghadapi kenyataan bahwa tidak semua kegagalan berasal dari keadaan, tetapi dari diri sendiri, membutuhkan kedewasaan jiwa.

Al-Qur’an mengingatkan dengan nada yang menggugah:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka. (Ar-Ra’d: 11)

Perubahan lahir dari dalam. Namun manusia sering menginginkan transformasi tanpa introspeksi. Mengharapkan perbaikan tanpa evaluasi diri. Mendambakan hasil berbeda sambil mempertahankan pola lama.

Muhasabah mematahkan ilusi itu.

Ia adalah audit batin.

Apa yang telah dilakukan?
Apa yang diabaikan?
Apa yang salah arah?
Apa yang sekadar pembenaran diri?

Muhasabah bukan ritual penyesalan.
Ia adalah proses kesadaran.

Karena tanpa muhasabah, manusia hidup dalam autopilot psikologis. Mengulangi kesalahan yang sama. Terjebak dalam pola yang sama. Menyalahkan faktor eksternal tanpa henti.

Muhasabah memutus siklus itu.

Ia menempatkan manusia pada posisi paling dewasa, yakni bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Namun muhasabah bukanlah tindakan menyiksa diri.

Ini yang sering disalah pahami.

Muhasabah bukan membenci diri.
Bukan merendahkan diri.
Bukan menenggelamkan diri dalam rasa bersalah.

Muhasabah adalah kejujuran yang konstruktif.
Ia mengakui tanpa menghancurkan. Menilai tanpa mematikan harapan. Mengoreksi tanpa kehilangan optimisme. Karena tujuan muhasabah bukan rasa bersalah,tetapi perbaikan arah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kesadaran yang sangat mendalam:

“Orang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

Menghisab diri. Sebelum dihisab.

Muhasabah adalah perjumpaan manusia dengan realitas dirinya. Tanpa topeng sosial. Tanpa pencitraan. Tanpa ilusi yang sering diciptakan ego.

Ia adalah momen sunyi yang menentukan kualitas hidup.

Karena manusia yang tidak pernah bermuhasabah akan sulit berkembang. Ia terjebak dalam pembenaran diri permanen. Selalu merasa benar. Selalu merasa korban. Selalu merasa keadaan sebagai sumber masalah utama.

Muhasabah memulihkan keseimbangan itu.
Ia membuat manusia kembali menjadi pelaku,
bukan sekadar pengeluh. Pada akhirnya, muhasabah adalah tanda kehidupan jiwa.

Karena hanya jiwa yang hidup yang mau dikoreksi.Hanya hati yang sadar yang mau menilai diri. Hanya manusia yang ingin bertumbuh yang berani melihat ke dalam.

Dan sering kali, perubahan terbesar dalam hidup bukan dimulai dari strategi baru, tetapi dari keberanian melihat diri sendiri dengan jujur.

Muhasabah membuka pintu itu.

Wallahu’alam