Membawa Sejarah Lokal ke Bangku Madrasah: Mahasiswa Universitas Andalas Memulai Sosialisasi Sejarah Lokal Pertama di MTs Swasta Pasia Laweh

Agam178 Dilihat

Pasia Laweh, BanuaMinang.co.id Di banyak daerah, sejarah lokal hidup dalam ingatan lisan: tersimpan di cerita orang tua, nama tempat, atau kebiasaan sehari-hari masyarakat. Namun di ruang kelas, sejarah semacam itu kerap tidak hadir sebagai pengetahuan yang dipelajari secara sistematis. Di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, kondisi tersebut mulai berubah.

 

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Andalas menginisiasi sosialisasi sejarah lokal di MTs Swasta Pasia Laweh. Kegiatan ini menjadi program pertama yang dilakukan secara terstruktur di lingkungan sekolah tersebut, dengan pendekatan pembelajaran yang dirancang khusus untuk siswa madrasah tsanawiyah.

 

Program ini dilaksanakan oleh Dhevin Akbar Fajri, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, bersama Zaky Satria, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas. Keduanya tergabung dalam tim KKN yang bertugas di Nagari Pasia Laweh.

 

Dari cerita lisan ke pembelajaran terstruktur

Berbeda dari pengajaran sejarah konvensional, sosialisasi ini tidak dimulai dengan kronologi atau hafalan tahun. Mahasiswa memilih pendekatan storytelling edukatif dan diskusi kelas, dengan titik tolak pengalaman sehari-hari siswa.

 

Sesi dibuka dengan pertanyaan sederhana: apa tempat paling penting di kampungmu, dan mengapa? Dari jawaban siswa, pasar, jalur pertanian, tempat ibadah, hingga ruang berkumpul masyarakat, kelas perlahan berubah menjadi peta sosial. Mahasiswa kemudian mengaitkan jawaban tersebut dengan konsep dasar sejarah lokal: perubahan ruang, dinamika sosial, dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya.

 

Pendekatan ini dimaksudkan agar sejarah terasa dekat dan relevan. Siswa diajak memahami bahwa sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar di luar daerah, tetapi juga tentang proses yang membentuk kampung tempat mereka tumbuh.

 

Sekolah sebagai simpul pengetahuan nagari

MTs Swasta Pasia Laweh merupakan satuan pendidikan yang berada langsung di wilayah Nagari Pasia Laweh. Dalam konteks nagari, sekolah memiliki posisi strategis sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan formal dan ingatan kolektif masyarakat.

 

Namun hingga kini, pengenalan sejarah lokal belum pernah dilaksanakan dalam bentuk program khusus yang terstruktur di sekolah tersebut. Oleh karena itu, kegiatan mahasiswa KKN Universitas Andalas ini ditempatkan dalam lingkup sekolah sebagai sebuah inisiatif awal, bukan klaim pada tingkat kecamatan atau kabupaten,namun memiliki nilai penting dari sisi pendidikan.

 

“Kami sengaja menempatkan kegiatan ini sebagai pengenalan awal yang terukur dan bisa direplikasi,” ujar tim mahasiswa KKN. “Fokusnya bukan klaim besar, tetapi membuka ruang belajar yang selama ini belum ada.”

 

Menumbuhkan pertanyaan, bukan hafalan

Dampak awal kegiatan ini terlihat dari respons siswa di kelas. Alih-alih pasif, siswa mulai aktif bertanya: tentang asal-usul nama tempat, perubahan fungsi lahan, hingga cerita yang mereka dengar dari orang tua atau kakek-nenek di rumah.

 

Bagi mahasiswa KKN, munculnya pertanyaan menjadi indikator keberhasilan. Sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan menjadi alat berpikir untuk memahami lingkungan sosial.

 

Sebagai tindak lanjut, siswa diberikan tugas sederhana berupa penyusunan pertanyaan wawancara kepada anggota keluarga atau tokoh di sekitar mereka. Langkah ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi literasi sejarah berbasis keluarga dan komunitas.

 

Pendidikan yang berangkat dari tempat sendiri

Di tengah arus informasi digital yang cepat dan seragam, penguatan sejarah lokal memberi jangkar identitas bagi generasi muda. Apa yang dilakukan mahasiswa Universitas Andalas di Pasia Laweh menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu berwujud pembangunan fisik. Ia juga dapat hadir sebagai kerja pengetahuan, membantu siswa memahami ruang hidupnya sendiri secara kritis.

 

Jika dikembangkan lebih lanjut, model sosialisasi ini berpotensi menjadi dasar bagi kegiatan literasi nagari, mulai dari proyek sejarah lisan, dokumentasi lokal, hingga integrasi muatan lokal dalam pembelajaran sekolah. (Zaky dkk)