Oleh Ardinal Bandaro Putiah
Banuaminang.Co.Id- Marah adalah emosi yang paling jujur sekaligus paling berbahaya. Ia datang tanpa topeng, meledak tanpa permisi, dan sering kali meninggalkan penyesalan yang lebih panjang daripada peristiwa yang memicunya. Manusia jarang hancur oleh keadaan, tetapi kerap runtuh oleh reaksinya sendiri.
Puasa menghadirkan sebuah paradoks yang menarik yaitu ketika tubuh dilemahkan oleh lapar, emosi justru mudah menguat. Sensitivitas meningkat, kesabaran menipis, hal-hal kecil terasa lebih mengganggu. Di titik ini, puasa memperlihatkan wajah aslinya. Ia bukan sekadar ibadah menahan makan, tetapi ibadah menahan ledakan.
Al-Qur’an menggambarkan salah satu ciri manusia bertakwa dengan kalimat yang sangat tajam:
“(yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.” (Ali ‘Imran: 134)
Menariknya, ayat ini tidak memerintahkan untuk menghilangkan marah. Al-Qur’an realistis. Marah adalah bagian dari fitrah manusia. Yang dituntut bukan ketiadaan emosi, melainkan pengendalian. Bukan penolakan rasa, tetapi disiplin jiwa.
Marah sering kali bukan masalah peristiwa, tetapi masalah ego. Ia lahir ketika realitas tidak berjalan sesuai kehendak diri. Ketika dunia tidak tunduk pada ekspektasi. Ketika orang lain tidak memenuhi standar batin kita. Dan tanpa disadari, manusia menjadikan dirinya pusat segalanya.
Puasa perlahan meruntuhkan pusat semu itu.
Lapar adalah pengalaman yang merendahkan ego. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk yang selalu berkuasa, melainkan makhluk yang sangat bergantung. Tubuh yang biasanya dimanjakan kini dipaksa patuh. Keinginan yang biasanya dituruti kini ditunda. Dalam disiplin itu, ego mulai retak.
Dan di celah retakan itulah kesadaran tumbuh.
Bahwa tidak semua hal harus direspons dengan kemarahan.
Bahwa tidak semua gangguan adalah ancaman.
Bahwa tidak semua perbedaan adalah alasan untuk meledak.
Puasa menciptakan ruang jeda — jarak halus antara dorongan dan tindakan. Dalam kehidupan biasa, manusia cenderung reaktif, tersinggung → marah. Puasa mengajarkan urutan yang lebih dewasa, tersinggung → menahan → menyadari → memilih.
Di situlah puasa bekerja sebagai latihan peradaban batin.
Sebab marah yang liar adalah bentuk primitif dari jiwa. Ia adalah sisa naluri yang belum dididik oleh kesadaran. Manusia yang tidak mampu mengelola marah sering kali bukan kurang benar, tetapi kurang jernih. Emosi mengaburkan akal. Ledakan menutup kebijaksanaan.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk hidup dalam keluasan jiwa, bukan dalam sempitnya reaksi. Keluasan itu tampak justru ketika dorongan kuat muncul, tetapi jiwa tetap tenang. Ketika amarah mendidih, tetapi lisan tetap terjaga. Ketika ego terluka, tetapi tindakan tetap bermartabat.
Puasa adalah madrasah bagi keluasan itu.
Setiap rasa kesal menjadi latihan.
Setiap dorongan marah menjadi ujian.
Setiap provokasi menjadi cermin.
Dan perlahan manusia mulai menyadari sesuatu yang penting, bahwa marah sering kali melelahkan bukan karena intensitasnya, tetapi karena ia dipelihara. Dendam kecil disimpan, kekecewaan lama dirawat, luka lama diulang dalam pikiran. Emosi yang seharusnya singkat berubah menjadi kondisi permanen jiwa.
Marah yang tidak pernah selesai adalah penjara batin.
Puasa datang sebagai proses pembebasan.
Ia mengajarkan bahwa menahan bukan kelemahan. Bahwa diam bukan kekalahan. Bahwa meredam bukan ketidakberanian. Justru di situlah letak kekuatan yang paling jarang dimiliki manusia yakni kemampuan menguasai diri sendiri.
Karena sesungguhnya, mengalahkan orang lain tidak pernah lebih sulit daripada mengalahkan dorongan dalam diri.
Ketika puasa mulai meresap, seseorang tidak menjadi manusia tanpa emosi, tetapi manusia dengan emosi yang tertata. Marah tetap ada, tetapi tidak lagi berkuasa. Kesal tetap muncul, tetapi tidak lagi mengendalikan. Ego tetap hidup, tetapi tidak lagi menjadi raja.
Dan di titik itu, puasa mencapai salah satu puncak maknanya:
Bukan sekadar menahan lapar,
tetapi menahan api yang paling sering membakar ketenangan jiwa.
Marah mungkin tetap datang. Ia bagian dari manusia. Tetapi hati yang dididik oleh puasa perlahan belajar sesuatu yang lebih besar: tidak semua api harus dinyalakan.
Sebagian cukup disadari, lalu dibiarkan padam.
Wallahu’alam




