MAKNA DAN MEMAKNAI IBADAH PUASA RAMADHAN

Kultum368 Dilihat

Oleh : Fajrul Huda

‎Nabi SAW menegur orang-orang yang berpuasa, teguran itu lebih kepada peringatan untuk berhati-hati dalam berpuasa, agar puasa yang dikerjakan itu tidak sia-sia:


‎رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

‎“ Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. ” (HR ath-Thabarani)

‎Puasa, harfiahnya perbuatan yang membatasi diri untuk kegiatan tertentu, dan membiasakan untuk kegiatan lain. Tetapi yang terjadi justru menunda melakukan sesuatu. Nah untuk itulah Nabi memperingatkan, jangan sampai yang didapat dari aktivitas puasa hanyalah pembiasaan untuk lapar dan haus itu saja.

‎Berpuasa, berarti mengatur ulang siklus kehidupan yang biasanya kita lakukan, atau sederhananya adalah evaluasi diri.

‎Perintah untuk berpuasa tidak banyak ditemui dalam Al-Qur’an, khususnya berpuasa pada bulan Ramadhan, hanya ditemui pada surat yang kedua, Al-Baqarah [2] : 183 dan untuk acuan pengerjaannya secara umum dijelaskan sampai pada ayat ke 188 dalam surah tersebut.

‎Berbeda dengan ayat-ayat tentang perintah shalat, yang cendrung ditampil secara spontan, dengan kalimat perintah langsung: aqimus ash shalah (kerjakanlah shalat…!). Nah puasa ramadhan justru diawali dengan kalimat sapaan, ini bukan berarti tanpa makna tertentu.

‎Bukan bermaksud untuk mengungguli satu ibadah dan melemahakan ibadah lain. Tetapi mengajak untuk memaknai setiap ibadah yang dilakukan, terkhusus ibadah puasa ramadhan.

‎Kenapa perintah puasa diawali dengan kalimat sapaan “hai orang-orang yang beriman…”, jawabannya terletak pada ayat ke 185 dalam surah Al Baqarah tersebut, yang mengungkap betapa pentingnya melakukan ibadah puasa tersebut, dengan makna yang sesungguhnya.

‎Sangking pentingnya ibada puasa ramadhan, apabila setiap orang yang beriman tidak berkesempatan melakukannya pada bulan tersebut, maka gantilah pada bulan yang lain, tetapi perlu dicatat bukan sekedar aktivitas menahan lapar dan hausnya itu saja.!

‎Lantas bagaimana ibadah puasa yang sesungguhnya.

‎Nah, perintah untuk menahan diri dari melakukan sesuatu yang biasa kita lakukan, seperti makan, minum, dan aktifitas yang didorong oleh nafsu lainnya, sejatinya itu hanya sebagian kecil dari aktifitas ibadah puasa. Artinya apabila fokus kita pada aktifitas menahan itu saja, maka itulah kenapa yang terjadi adalah justru hanya menunda untuk melakukannya. Tetapi yang diinginkan adalah mengganti dengan kegiatan yang lain.

‎Awal ayat 185 surah Al Baqarah menjadi ayat kunci dalam aktifitas ibadah puasa yang dilakukan. Karena keharusan untuk mengevaluasi diri berdasarkan kitab panduan, yaitu al Qur’an. Dengan bahasa lain Allah mewajibkan bagi setiap hambanya untuk melakukan evaluasi diri dan menyusun perencanaan untuk satu tahun kedepan berdasarkan al Qur’an.

‎Sehingganya bagi yang tidak berkesempatan melakukannya pada bulan ramadhan, maka kewajiban melakukannya tidak hilang dan diganti pada hari yang lain. Artinya, barang siapa yang tidak melakukannya, berarti aktivitas yang dilakukan dalam satu tahun kedepan tanpa arah dan pedoman yang jelas.

‎Dengan demikian aktifitas ibadah puasa bukan hanya kegiatan menahan lapar dan haus pada waktu siang dan menyibukkan diri untuk mempersiapakan menu berbuka dan sahur. Tetapi dengan bahasa yang lebih tegas, bahwa berpuasa yang sesungguhnya adalah menyibukkan diri dengan Al Qur’an, membaca dan memaknainya, sampai-sampai makan cukup dilakukan pada waktu sahur dan maghrib saja.

‎Fattaqullaha mastatha’tum
‎Billahi fie sabililhaq.