Oleh: Ardinal Bandaro Putiah
Banuaminang.co.id- Ada sesuatu yang menarik dari cara Al-Qur’an mendidik manusia. Ia tidak selalu mengajar melalui penjelasan panjang, tetapi sering melalui pengalaman hidup. Puasa adalah salah satu bentuk pendidikan itu. Allah tidak menjelaskan lapar secara teoritis, tetapi memerintahkan manusia merasakannya.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:
“… _dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui_.” (Al-Baqarah: 184)
Kalimat ini menyimpan kedalaman makna yang sering terlewat. Jika kamu mengetahui. Seolah ada dimensi pengetahuan yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman, bukan sekadar logika. Lapar bukan sekadar kondisi fisik, tetapi pintu kesadaran.
Manusia hidup dalam ilusi kelimpahan. Selama kebutuhan jasmaninya terpenuhi, ia merasa stabil, merasa aman, bahkan merasa kuat. Namun rasa cukup sering kali melahirkan kelalaian. Allah mengingatkan kondisi ini dengan sangat tajam:
“_Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa dirinya cukup_.” (Al-‘Alaq: 6–7)
Rasa cukup, dalam makna ini, bukan sekadar memiliki, tetapi merasa tidak lagi membutuhkan. Dan di situlah kesadaran mulai tumpul. Manusia berhenti merasakan ketergantungan, berhenti merasakan kelemahan, berhenti merasakan kehambaan.
Ketika lapar mulai menggigit, manusia tiba-tiba sadar bahwa tubuh yang selama ini ia banggakan ternyata sangat rapuh. Bahwa kestabilan yang ia rasakan ternyata bertumpu pada hal-hal yang sangat sederhana. Bahwa banyak keinginan yang selama ini terasa mendesak ternyata hanyalah kebiasaan yang dimanjakan. Lapar memaksa manusia menghadapi dirinya tanpa topeng kenyamanan.
Menariknya, Al-Qur’an tidak memandang kekurangan semata sebagai penderitaan. Allah justru menjadikannya sebagai instrumen kesadaran:
“_Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar_.” (Al-Baqarah: 155)
Ayat ini memperlihatkan satu logika Ilahi yang paradoksal bagi manusia, kekurangan sebagai kabar gembira. Sebab dalam kekurangan, manusia mulai melihat hal-hal yang tak tampak dalam kelimpahan.
Lapar menajamkan rasa.
Lapar membersihkan persepsi.
Lapar membangunkan empati.
Ketika seseorang merasakan lapar, ia tidak lagi sekadar memahami kemiskinan sebagai konsep sosial, tetapi sebagai realitas eksistensial. Ia mulai merasakan apa yang selama ini hanya ia lihat. Di situlah puasa mengubah simpati menjadi kesadaran kemanusiaan. Tetapi lapar Ramadhan melampaui dimensi sosial.
Ia juga membuka lapisan-lapisan batin yang jarang disadari. Betapa banyak dorongan dalam diri manusia yang ternyata tidak bersumber dari kebutuhan, tetapi dari nafsu. Betapa banyak kegelisahan yang ternyata lahir bukan dari kekurangan, tetapi dari ketidakmampuan menahan keinginan.
Allah menggambarkan kecenderungan jiwa ini:
“_Sesungguhnya nafs itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku_.” (Yusuf: 53)
Puasa menghadirkan satu kondisi yang unik dimana keinginan tetap ada, tetapi pemenuhan ditangguhkan. Di sinilah manusia mulai mengenali dirinya. Apakah ia mengendalikan dorongan, atau justru diperbudak olehnya?
Lapar menjadi cermin paling jujur.
Ia memperlihatkan betapa gelisahnya diri ketika keinginan tidak segera dipenuhi. Betapa rapuhnya kesabaran. Betapa mudahnya emosi tersulut. Betapa tipisnya jarak antara ketenangan dan keguncangan.
Namun justru dari keguncangan itulah kesadaran lahir. Karena ketenangan yang sejati bukanlah ketenangan tanpa dorongan, tetapi ketenangan di tengah dorongan. Bukan ketiadaan keinginan, tetapi kemampuan mengendalikannya. Dan puasa melatih manusia untuk itu — setiap hari, berulang, disiplin.
Lapar bukan sekadar rasa kurang.
Ia adalah pendidikan jiwa. Ia mengingatkan manusia tentang batas dirinya. Tentang ketergantungannya. Tentang rapuhnya eksistensi yang sering ia anggap kokoh.
Dan mungkin di situlah rahasia mengapa Allah menjadikan puasa sebagai jalan menuju taqwa. Sebab kesadaran spiritual sering kali tidak lahir dari kelimpahan, tetapi dari pengalaman rapuh yang jujur.
Karena manusia, sering kali, baru benar-benar melihat ketika ia merasa kehilangan. Dan dalam lapar Ramadhan, manusia diajak untuk melihat – bukan dunia, tetapi dirinya sendiri.
Wallahu’alam


